Rabu, Mei 08, 2013

ABSTRACT - PPIS BSN 2013



The quality standardization of lamb or sheep’s product
 for enhaNcement of added-value and competitiveness

Abubakar



ABSTRACT

Political will of Indonesia government  in realizing  self supporting of meat through the program of self supporting of cow and buffalo meat  (PSDK 2014)  has been right on the track and should be totally encouraged because it is related to the food security and food sovereignity. The import of of beef cattle and frozen meat from neighbouring country is still required to close the gap between consumption and production in Indonesia. To reduce the import of beef cattle and frozen meat, there is sheep or lamb live stock with 22 milion head population  that have significant potential enough in providing of national meat. Nowadays, the production of sheep or lamb has not satisfied yet, because the quality standardisation of product has not been realized yet, therefore, there are many variation of product, quality and quantity loss, less efficient of handling and processing, perishable and the weakness of marketing system. Standardization of quality of product of lamb or sheep’s livestock through the practices of  postharvest  technology is expexted to produce the meats or the processed ones which has best quality and preferred by consumer, so that it will increase value and competitiveness. The strategy for enhancement of the quality and food safety of livestock product is required to support that standardization by choosing the superior livestock breeds, providing quality feeds, the good husbandry procedure, disease control, application of appropriate postharvest technology, as well as realizing of the safe keeping principles at every point of supply chains. Through  the aplication of standardization,  quality of goat or sheep’s product is expected to be improved, as well as its value added, and competitiveness, especially to support PSDK and the development of livestock subsector in general.

Key words:  sheep/lamb, standardization, quality, added -value, competitiveness








The quality of composit flour based on pumpkin as a complementary
 food of breast milk  rich of β-cAROTENe (SNI 01-7111.4-2005)

ABUBAKAR



ABSTRACT

This study aimed at developing a formula of pumpkin-based composite flour mixed with banana flour and green-bean flour as a complementary food for breast-milk rich in β-carotene using Response Surface Methodology (RSM). Special objective was to analyze its chemical quality (moisture content, protein, fat, ash, carbohydrates, β-carotene, Fe, Zn, Ca, total starch, and starch digestibility) and comparing formula selected with and without oligosaccharides reduction. Quality characteristics of selected composite flour formula without reducing oligosaccharides was as follow: 4.05% moisture content, 7.08% ash content, 9.24% protein content, 1.6% fat content, 277 ppm of beta-carotene, 1.29 mg/100g zinc, 754 mg/100g calcium, starch digestibility of 92.34%, and 364 kcal of energy. On the other hand, the selected  formula of composite flour with reducing oligosaccharides have the characteristics as follow: 7.12% moisture content, 4.66% ash content 4.66% fat content, 11.17 protein content, 239 ppm of beta-carotene, 0.87 mg/100g  zinc, 596 mg/100g calcium, starch digestibility of 84.7%, and 372 kcal of energy. The  composite flour produced has met  energy, protein, calcium, and iron requirements (SNI 01-7111.4-2005).

Keywords: composite flour, pumpkin, complementary foods

Selasa, Mei 07, 2013

MAKALAH PPIS-BSN 2013



MUTU TEPUNG KOMPOSIT BERBASIS LABU KUNING UNTUK MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) KAYA β-KAROTEN (SNI 01-7111.4-2005)

Abubakar 1) dan Budi Setiawan2)

1)     Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
2)     Dep Gizi Masyarakat Fak.Ekologi Manusia IPB, Bogor
Email: abu.028@gmail.com
 

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menyusun formula tepung komposit berbasis labu kuning dengan campuran tepung pisang dan tepung kacang hijau sebagai bahan makanan pendamping ASI (MPASI) kaya β-karoten dengan menggunakan Rerponse Surface Methodology (RSM). Tujuan khususnya mengetahui mutu kimia (kadar air, protein, lemak, abu, karbohidrat, β-karoten, Fe, Zn, Ca, total pati, dan daya cerna pati) serta membandingkan formula terpilih dari tepung komposit (labu kuning, pisang, dan kacang hijau) MPASI dengan dan tanpa reduksi oligosakarida. Formula terpilih dari tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida memiliki karakteristik mutu: kadar air 4.05%, kadar abu 7.08%, kadar protein 9.24%, kadar lemak 1.6%, beta-karoten 277 ppm, seng 1.29 mg/100g, kalsium 754 mg/100g, daya cerna pati 92.34%, dan energi 364 kkal. Sedangkan formula terpilih dari tepung komposit  dengan reduksi oligosakarida memiliki karakteristik: kadar air 7.12%, kadar abu 4.66%, kadar protein 11.17%, kadar lemak 4.66%, beta-karoten 239 ppm, seng 0.87 mg/100g, kalsium 596 mg/100g, daya cerna pati 84.7%, dan energi 372 kkal. Tepung komposit yang dihasilkan sudah memenuhi syarat energi, protein, kalsium, dan besi (SNI SNI 01-7111.4-2005).
Katakunci: tepung komposit, labu kuning, makanan pendamping asi


The quality of composit flour based on pumpkin as a complementary  food of breast milk  rich of β-cAROTENe (SNI 01-7111.4-2005)

ABSTRACT

This study aimed at developing a formula of pumpkin-based composite flour mixed with banana flour and green-bean flour as a complementary food for breast-milk rich in β-carotene using Response Surface Methodology (RSM). Special objective was to analyze its chemical quality (moisture content, protein, fat, ash, carbohydrates, β-carotene, Fe, Zn, Ca, total starch, and starch digestibility) and comparing formula selected with and without oligosaccharides reduction. Quality characteristics of selected composite flour formula without reducing oligosaccharides was as follow: 4.05% moisture content, 7.08% ash content, 9.24% protein content, 1.6% fat content, 277 ppm of beta-carotene, 1.29 mg/100g zinc, 754 mg/100g calcium, starch digestibility of 92.34%, and 364 kcal of energy. On the other hand, the selected  formula of composite flour with reducing oligosaccharides have the characteristics as follow: 7.12% moisture content, 4.66% ash content 4.66% fat content, 11.17 protein content, 239 ppm of beta-carotene, 0.87 mg/100g  zinc, 596 mg/100g calcium, starch digestibility of 84.7%, and 372 kcal of energy. The  composite flour produced has met  energy, protein, calcium, and iron requirements (SNI 01-7111.4-2005).
Keywords: composite flour, pumpkin, complementary foods

PENDAHULUAN
     Salah satu masalah gizi yang rentan terjadi pada bayi dan anak-anak adalah defisiensi vitamin A yang disebabkan oleh berbagai hal diantaranya kurang energi protein (KEP), penyakit infeksi, dan yang paling utama adalah kurangnya asupan vitamin A pada diet hariannya. Lebih dari 127 juta anak di dunia mengalami ketidakcukupan asupan vitamin A. Hasil studi masalah gizi mikro di Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kadar serum vitamin A balita rata-rata 11 μg/dl (Herman 2006). Kadar serum vitamin A dapat dikatakan normal apabila mencapai 20 μg/dl atau lebih. Kurang vitamin  A (KVA) menyebabkan fungsi kekebalan tubuh menurun sehingga mempertinggi resiko anak terhadap penyakit infeksi (Almatsier 2005).Asupan vitamin A pada bayi berasal dari air susu ibu (ASI). Menurut Krisnatuti dan Yenrina (2006) ASI hanya memenuhi kebutuhan gizi sampai berumur 6 bulan. Pada periode ini bayi tidak memerlukan makanan lain selain dari ASI. Akan tetapi setelah melampaui periode tersebut asupan vitamin A dan zat gizi lainnya harus dipenuhi dari makanan tambahan sebagai makanan pendamping ASI (MPASI). MPASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Jenis MPASI terdiri dari MPASI komersial yang dijual di pasaran dan MPASI lokal atau dapur ibu yang bahan bakunya diambil dari bahan pangan lokal sesuai dengan kebiasaan dan sosial budaya setempat.
     Salah satu bahan lokal yang populer di masyarakat adalah labu kuning. Labu kuning merupakan sayuran yang kaya akan β-karoten dan antioksidan. Karakteristik warna kuning pada labu kuning menandakan adanya karotenoid (Astawan, 2004 dan Pongjanta et al 2006).  Buahnya mengandung karotenoid tinggi sehingga dijuluki ”raja β-karoten”. Dalam saluran cerna, β-karoten dikonversi oleh sistem enzim menjadi retinol yang berfungsi sebagai vitamin A. Labu juga mengandung vitamin C, mineral (Ca, Fe, dan Na), inulin, dan serat pangan yang sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan kesehatan.
     Kombinasi dari labu kuning, pisang, dan kacang hijau jika diformulasikan akan memberikan produk dengan zat gizi lengkap. Dalam pembuatan produk MPASI yang perlu diingat adalah bahwa organ pencernaan bayi pada usia 6-24 bulan belum kuat, sehingga makanan yang diberikan harus mudah dicerna dan lunak. Bahan-bahan sumber karbohidrat yang berasal dari pangan nabati tersebut mengandung senyawa oligosakarida berupa raffinosa, stakhiosa, dan verbaskosa yang menyebabkan diare dan flatulensi pada bayi. Dosis aman konsumsi oligosakarida sekitar 0.3 g/kg bb/hari (Muchtadi 1993). Maka dari itu bahan-bahan yang mengandung oligosakarida tinggi harus melalui proses pengurangan kadar oligosakarida sampai pada taraf yang aman.Tepung komposit dari labu kuning, pisang dan kacang hijau yang sudah mengalami reduksi oligosakarida dapat menjadi bahan baku makanan pendamping ASI yang dapat diterima oleh pencernaan bayi. Penggunaan tepung akan memudahkan penyusunan formulasi dan pembuatan MPASI. Disamping itu, tepung lebih praktis dalam penyimpanannya, mudah dikemas, dan memiliki daya simpan yang cukup lama.

MATERI DAN METODE
     Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor. Bahan baku utama adalah  labu kuning (Cucurbita moschata), pisang (Musa sp.), dan kacang hijau (Vigna radiata). Labu kuning didapat dari daerah Kopeng, Semarang berumur 2,5-3 bulan. Pisang yang digunakan adalah pisang raja bulu yang sudah tua tapi belum matang (Anonymous, 2005b). Tepung labu kuning tanpa reduksi oligosakarida dibuat dengan proses pembuangan kulit dan biji, pencucian, pengirisan, perendam an dengan air kapur, penirisan, pengeringan, penepungan, dan pengayakan. Tepung labu kuning dengan reduksi oligosakarida dibuat dengan proses pembuangan kulit dan biji, pencucian, pengirisan, perendaman dengan air kapur 0.15% selama 1 jam, penirisan, perendaman dengan enzim α-galakto sidase, penirisan, pengeringan, penepungan, dan pengayakan. Perendaman air kapur bertujuan agar hasil tepung tidak menggumpal dan mudah diayak. Perendam kultur enzim α-galaktosidase dengan menggunakan starter bakteri selama 8 jam. Starter bakteri yang digunakan dipilih secara eksperimental. Ada empat macam bakteri yang digunakan (Lactobacillus plantarum, Lactobacillus brevis, Bivido bacterium longum, Leuconostoc mesenteroidis).

Formulasi Tepung Komposit
     Formulasi merupakan tahap awal untuk optimasi formula terpilih dari tepung komposit berbasis labu kuning. Formulasi tepung komposit berdasarkan metode  RSM (Response Surface Methodologi). Formu lasi tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida menggunakan campuran tepung labu kuning tanpa reduksi oligosakarida, tepung pisang (hasil rendaman natrium metabisulfit 150 ppm) dan tepung kacang hijau tanpa reduksi oligosakarida. Sedangkan formulasi tepung komposit dengan reduksi oligosakarida menggunakan campuran tepung labu kuning dengan reduksi oligosakarida, tepung pisang (hasil rendaman natrium metabisulfit 150 ppm), dan tepung kacang hijau dengan reduksi oligosakarida (perendaman 6 jam). Rancangan metode penelitian yang digunakan adalah rancangan Response Surface Methodology (RSM) mixture design D-optimal. Rancangan ini menggunakan software Design Expert trial (DX trial).  Penggunaan rancangan RSM mixture design dikarenakan rancangan ini sesuai dengan faktor perlakuan pada penelitian ini, yaitu perlakuan pencampuran komponen yang diubah-ubah untuk memperoleh respon tertentu (Anonymous, 2005a).
     Faktor perlakuan berupa komponen yang diubah-ubah pada penelitian ini adalah jumlah tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau. Output dari proses analisa respon yang diolah dengan rancangan statistik RSM mixture design adalah berupa persamaan polinomial. Persamaan polinomial yang diperoleh tiap respon ditunjukkan dengan variabel tertentu yang dapat berbentuk Mean (M), Linear (L), Quadratik (Q), dan Cubic (C). Variabel tersebut menjadi faktor yang menentukan rancangan model polinomial untuk faktor perlakuan pada penelitian sehingga didapatkan respon yang mendukung terciptanya produk yang optimal (Hadiningsih, 2004). Kisaran komponen dikonversi berdasarkan berat total formula tepung komposit (100%), kisaran komponen yang digunakan adalah untuk tepung labu kuning 50-60%, tepung pisang 15-25%, dan tepung kacang hijau 15-25%. Hal-hal tersebut merupakan kendala bahan dalam pembuatan rancangan percobaan D-optimal yang menghasilkan 16 formula dalam percobaan. Tabel 1 menunjukkan kisaran komponen penyusun tepung komposit berbasis labu kuning.

             Tabel.1. komponen penyusun tepung komposit berbasis labu kuning
Komponen
Batas bawah (%)
Batas atas (%)
Tepung Labu Kuning
        50
         60
Tepung Pisang
        15
         25
Tepung Kacang Hijau
        15
         25
           
     Berdasarkan kisaran konsentrasi komponen tersebut, program DX trial merancang beberapa formula. Pada tahap ini juga dilakukan penentuan respon apa saja yang akan diukur. Pemilihan respon dilakukan berdasarkan karakteristik yang akan berubah akibat perubahan proporsi relatif dari komponen-komponennya. Respon-respon ini diukur dan dioptimasi sehingga diperoleh formula optimum. Respon-respon pada penelitian ini adalah kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar potein, karbohidrat, kadar Fe, kadar Zn, kadar Ca, kadar beta-karoten, total pati, dan daya cerna pati. Respon-respon ini dipilih agar dapat diperoleh formula yang dapat menghasilkan tepung komposit dengan mutu yang baik. Berdasarkan tahap perancangan formula dihasilkan 11 formula dan terdapat 5 formula yang memiliki nilai leverage mendekati satu. Nilai leverage merupakan nilai probability kesalahan formula (Anonymous, 2005a). Nilai leverage yang mendekati satu berarti formula berpeluang untuk salah. Menurut rekomendasi program, formula dengan leverage tersebut sebaiknya diulang sehingga total formula hasil olahan DX trial adalah sebanyak 16 formula. Pembuatan ke 16 formula tepung komposit berdasarkan komposisi proporsi masing-masing tepung hasil rancangan formula yang diperoleh dari program DX trial. Tabel 2 menunjukkan rancangan formula tepung komposit dengan program DX trial. Keenam belas formula tersebut kemudian analisis masing-masing responnya. Selanjutnya masing-masing hasil analisis respon dimasukkan ke program DX trial. Program akan merekomendasikan salah satu model polinomial yang cocok untuk setiap respon.
     Program Design Expert trial memiliki 5 model polinomial untuk setiap respon. Model-model polinomial tersebut adalah mean, linier, quadratik, spesial cubic, dan cubic (Giovani. 1983). Model polinomial merupakan proses analisis mutu awal produk yang diolah oleh rancangan statistik RSM mixture design D-optimal  yang menunjukkan hasil analisis mutu awal atau respon produk. Program Design Expert trial  merekomendasikan salah satu model yang paling sesuai untuk setiap respon.

Tabel 2 Formula tepung komposit MPASI
Formula
Tepung Labu Kuning
Tepung Pisang
Tepung Kacang Hijau
F1
F2
F3
F4
F5
F6
F7
F8
F9
F10
F11
F12
F13
F14
F15
F16
60.000
58.333
50.000
55.000
60.000
50.000
58.330
55.000
55.833
53.333
60.000
55.000
60.000
60.000
60.000
56.667
20.000
18.333
25.000
20.000
20.000
25.000
23.333
25.000
20.833
23.333
25.000
25.000
15.000
15.000
25.000
21.667
20.000
23.333
25.000
25.000
20.000
25.000
18.333
20.000
23.333
23.333
15.000
20.000
25.000
25.000
15.000
21.667
           
Program DX trial selanjutnya menampilkan hasil analisis ragam atau ANOVA. Suatu variabel respon dapat dikatakan berbeda nyata (signifikan) pada taraf signifikansi 5% apabila nilai Prop>F hasil analisis lebih kecil dari atau sama dengan 0.05. Variabel respon yang paling signifikan dapat digunakan sebagai model prediksi pada tahap optimasi. Variabel-variabel respon tersebut selanjutnya digunakan sebagai model prediksi untuk mendapatkan formula terpilih.
Karakteristik Mutu Kimia. Setiap formula tepung komposit dilakukan analisis karakteristik kimia. Analisis tersebut meliputi: kadar air, karbohidrat, protein, lemak, abu, β-karoten, Fe, Zn, Ca, total pati, dan daya cerna pati. Semua data analisis disajikan dalam berat basah.
Formulasi Terpilih. Hasil analisis karakteristik dimasukkan sebagai respon dengan metode RSM. Formulasi tepung komposit terpilih dihasilkan dari respon protein dan beta-karoten yang maksimum. Hasil formula terpilih dari tepung komposit hasil reduksi oligosakarida akan dibandingkan dengan formula terpilih dari tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida serta dengan persyaratan MPASI.
Pengolahan dan Analisis Data. Data yang dihasilkan diolah menggunakan  Microsoft Exel software. Kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, total pati dan daya cerna pati dinyatakan dalam persentase. Kandungan Fe, Zn, dan Ca dinyatakan dalam mg/100 gram. β-karoten dinyatakan dalam ppm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Mutu Tepung Komposit
     Analisis tepung komposit berbasis labu kuning meliputi tepung tanpa reduksi oligosakarida dan tepung komposit berbasis labu kuning dengan reduksi oligosakarida. Tabel 3 adalah hasil analisis proksimat tepung komposit tanpa oligosakarida.

Tabel 3 Hasil analisis proksimat tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida
Formula
Kadar Air (%)
Kadar Abu (%)
Kadar Potein (%)
Kadar Lemak (%)
Kadar Karbohidrat (%)
F1
6.70±0.11
4.81±0.02
7.23±0.27
1.59±0.16
79.68±0.20
F2
6.84±0.06
4.57±0.24
9.38±0.34
1.46±0.11
77.76±0.06
F3
6.67±0.08
4.40±0.00
7.00±0.45
1.63±0.04
80.30±0.33
F4
6.75±0.05
4.70±0.03
8.69±0.08
1.77±0.08
78.10±0.14
F5
6.70±0.11
4.81±0.02
7.23±0.27
1.59±0.16
79.68±0.20
F6
6.67±0.08
4.40±0.00
7.00±0.45
1.63±0.04
80.30±0.33
F7
5.71±0.35
4.40±0.46
8.74±0.37
1.66±0.15
79.51±0.59
F8
5.18±0.23
4.64±0.25
9.25±0.04
1.63±0.21
79.31±0.15
F9
4.15±0.16
6.56±0.05
9.38±0.19
1.58±0.09
78.35±0.11
F10
4.34±0.18
6.36±0.08
8.09±0.41
1.50±0.04
79.71±0.64
F11
4.52±0.40
6.92±0.08
6.57±0.35
1.68±0.13
80.33±0.01
F12
5.18±0.23
4.64±0.25
9.25±0.04
1.63±0.21
79.31±0.15
F13
4.05±0.33
7.08±0.05
9.24±0.32
1.60±0.07
78.05±0.13
F14
4.05±0.33
7.08±0.05
9.24±0.32
1.60±0.07
78.05±0.13
F15
4.52±0.40
6.92±0.08
6.57±0.35
1.68±0.13
80.33±0.01
F16
5.77±0.06
6.64±0.03
9.27±0.98
1.93±0.11
76.39±0.83

Tabel 4 Hasil analisis proksimat tepung komposit dengan reduksi oligosakarida
Formula
Kadar Air (%)
Kadar Abu (%)
Kadar Potein (%)
Kadar Lemak (%)
Kadar Karbohidrat (%)
F1
7.42±0.23
4.59±0.01
9.06±0.11
2.44±0.05
76.49±0.06
F2
7.50±0.01
4.31±0.22
10.59±0.40
2.73±0.15
74.88±0.75
F3
7.13±0.06
3.27±0.42
10.74±0.27
2.63±0.09
76.23±0.19
F4
7.60±0.09
4.24±0.02
11.85±0.18
3.10±0.89
73.21±1.00
F5
7.74±0.09
4.35±0.16
11.38±0.09
4.56±0.24
71.97±0.41
F6
7.29±0.03
3.54±0.08
10.85±0.60
2.77±0.78
75.54±1.50
F7
7.46±0.11
4.29±0.10
9.96±0.44
2.73±0.10
75.56±0.74
F8
7.45±0.04
3.98±0.04
9.80±0.17
2.36±0.3
76.42±0.14
F9
7.03±0.06
4.27±0.04
10.31±0.12
3.25±0.16
75.14±0.18
F10
7.38±0.06
3.58±0.37
9.61±0.19
3.71±1.81
75.72±1.93
F11
7.78±0.10
3.65±0.03
8.81±0.95
4.05±0.19
75.71±1.02
F12
7.36±0.09
4.32±0.09
9.15±0.09
3.87±0.07
75.29±0.17
F13
7.22±0.09
4.46±0.12
10.48±0.04
3.79±0.38
74.05±0.13
F14
7.02±0.07
4.85±0.06
11.85±0.14
3.40±0.47
72.88±074
F15
7.32±0.06
3.71±0.15
8.36±0.33
3.97±0.36
76.64±0.78
F16
7.40±0.06
3.98±0.06
9.23±0.07
4.47±0.04
74.92±0.02

Kadar Air
     Kadar air dari formula tepung komposit berbasis labu kuning tanpa reduksi oligosakarida ini memiliki nilai antara 4.05 % hingga 6.75 %. Nilai tertinggi terdapat pada formula 2 yaitu 6.75%. Sedangkan kadar air tepung komposit dengan reduksi oligosakarida memiliki kadar air sekitar 7.02% - 7.78%. nilai tertinggi terdapat pada formula 11 dengan nilai 7.78%.  Kadar air dari kedua formula tepung komposit dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4
     Kadar air pada tepung komposit berbasis labu kuning tanpa dan dengan reduksi oligosakarida yang diuji dengan Anova tidak berbeda nyata terhadap komposisi tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau pada tingkat signifikansi 5%. Hal ini terjadi karena semua jenis tepung berasal dari proses pengeringan yang sama yaitu dengan cabinet dryer sehingga menghasilkan kadar air yang relatif sama pada tiap tepung. Selain dari itu, hasil uji Anova yang tidak berbeda nyata disebabkan karena selang yang digunakan dari komposisi tiap tepung hanya 10% dengan komposisi paling tinggi adalah tepung labu kuning (50-60%). Dengan selang ini tidak mempengaruhi kadar air dari tepung komposit. Adeomowaye et al (2008) menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kadar air antara tepung komposit tigernut-wheat (90:10) dengan tepung komposit tigernut-wheat (80:20).
     Kadar air dari kedua formulasi baik yang tanpa maupun yang dengan reduksi oligosakarida memiliki nilai yang rendah. Kadar air ini lebih rendah dari kadar air pada tepung terigu yaitu 12% (Mahmud et al 2009). Air dalam bahan makanan sangat menentukan kesegaran dan daya tahan bahan makanan karena kandungan air berkaitan dengan perkembangan mikroorganisme dalam bahan makanan tersebut (Sulaeman et al.,2004). Kandungan air bahan pangan tidak dapat ditentukan hanya dengan melalui bentuk fisiknya. Air juga dapat mempengaruhi tekstur, rupa maupun cita rasa bahan makanan (Winarno 2008).

Kadar Abu 
     Kadar abu tepung komposit berbasis labu kuning tanpa reduksi oligosakarida sekitar 4.40 % hingga 7.08%. Nilai tertinggi terdapat pada formula 13 dan 14 sebesar 7.08%.  Sedangkan kadar abu pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida berkisar 3.26%-4.8%. Nilai tertinggi terdapat pada formula 14. Kadar abu dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
     Hasil uji Anova terhadap kadar abu dengan taraf uji α= 0.05 menunjukkan bahwa komposisi pada tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida tidak menunjukkan berbeda nyata (p>0.05). Hal ini terjadi karena kandungan abu pada tepung kacang hijau dan tepung labu kuning memiliki kandungan abu yang lebih tinggi dari kandungan abu tepung pisang, sehingga dengan selang 10% tepung kacang hijau dan tepung labu tidak berpengaruh terhadap kadar abu tepung komposit. Kacang-kacangan merupakan sumber baik untuk mineral seperti kalsium, besi, tembaga, seng, kalium dan magnesium. Kalium menyumbang 25-30% total mineral pada kacang-kacangan. Kacang-kacangan  juga memiliki kandungan kalsium yang lebih tinggi daripada serealia. Kacang-kacangan mengandung sejumlah fospor yang sebagian besar berada dalam bentuk asam fitat, yang kadarnya bisa dikurangi melalui proses pengolahan (Salunke et al 1985). Bahan makanan 96 % terdiri dari bahan organik. Bahan organik akan mudah terbakar dalam proses pembakaran hingga 600oC. Bahan anorganik berbeda dengan bahan organik yang memiliki sifat tidak mudah terbakar. Bahan anorganik merupakan mineral yang ada dalam produk makanan seperti Ca, Mg, Na, P, K, Mn, dan Cu. Abu yang terbentuk berwarna putih abu-abu, berpartikel halus dan mudah dilarutkan (Winarno 2008).
     Pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida menunjukkan adanya perbedaan yang nyata terhadap kandungan abu (p≤ 0.05). Hal ini terjadi karena kandungan abu pada tepung kacang hijau dan tepung labu kuning mengalami penurunan pada saat proses reduksi oligosakarida. Tepung kacang hijau dengan reduksi oligosakarida diproses dengan cara merendam kacang hijau selama 6 jam dengan air bersih, sedangkan tepung labu kuning direndam dengan larutan enzim α-galaktosidase selama 18 jam. Perendaman tersebut yang menyebabkan kandungan mineral berkurang yang berdampak pada penurunan kadar abu. Donangelo et al (1995) menyebutkan bahwa penurunan jumlah komponen mineral (abu) selama proses germinasi kacang-kacangan kemungkinan disebabkan oleh kehilangan mineral larut air saat pencucian dan perendaman sebelum proses germinasi.


Kadar Lemak
     Kadar lemak pada tepung komposit berbasis labu kuning tanpa reduksi oligosakarida memiliki nilai antara 1.46 %-1.93 %. Nilai tertinggi terdapat pada formula 16 yaitu 1.93%. Sedangkan kadar lemak tepung komposit dengan reduksi oligosakarida memiliki kadar lemak sekitar 2.36 % - 4.56 %. Nilai tertinggi terdapat pada formula 5 yaitu 4.56%. Dilihat secara keseluruhan terjadi peningkatan lemak pada formula tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Penambahan ini dikarenakan terjadi penambah an lemak pada saat reduksi oligosakarida pada proses penepungan labu kuning. Proses penepungan labu kuning dengan reduksi oligosakarida melalui tahap perendaman dengan enzim α-galaktosidase dengan starter bakteri L. brevis. Beberapa enzim hanya terdiri dari protein, tetapi kebanyak an enzim mengandung komponen non protein tambahan seperti karbohidrat, lemak, logam, fosfat, atau beberapa bagian organik lain (See, et al., 2007). Kadar lemak dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
     Hasil analisis Anova menunjukkan komposisi tepung labu kuning, tepung kacang hijau, dan tepung pisang tidak berbeda nyata terhadap kadar lemak tepung komposit baik yang tanpa reduksi maupun dengan reduksi oligosakarida. Hal ini disebabkan karena semua jenis tepung yang digunakan bukan merupakan sumber lemak atau kaya akan lemak sehingga tepung komposit yang dihasilkan memiliki kandungan lemak yang relatif sama sehingga dengan selang 10% dari tiap tepung tidak berpengaruh nyata terhadap hasil analisis lemaknya. Hasil penelitian Pongjanta et al (2006) menyebutkan bahwa kandungan lemak pada tepung labu kuning adalah 1.34% (bb), sedangkan berdasarkan hasil penelitian Prabhavat et al (1999) menunjukkan bahwa kandungan lemak pada tepung kacang hijau sebesar 1.44% (bk) atau  sekitar 1.34% (bb). Hasil penelitian Daramola dan Osanyinlusi (2006) pada tepung pisang berbagai varietas memiliki kandungan lemak 0.2-0.85% (bb).
     Kadar lemak yang dihasilkan pada tepung komposit ini tergolong rendah. Lemak merupakan salah satu unsur penting dalam bahan pangan yang berfungsi sebagai energi. Lemak dan minyak juga merupakan zat makanan penting untuk kesehatan tubuh manusia. Apabila asupan lemak berlebih dalam tubuh manusia maka dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti jantung koroner. Kadar lemak yang tinggi dalam bahan pangan juga mempengaruhi daya tahan produk makanan (Winarno 2008). Rendahnya kandungan lemak ini meminimalisasi kerusakan tepung akibat oksidasi.

Kadar Protein
     Kadar protein merupakan salah satu faktor yang menentukan mutu dari tepung komposit. Kadar protein tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida memiliki nilai antara 6.67% - 9.38%. Nilai paling tinggi terdapat pada formula 2 dan 9 dengan kadar protein 9.38%.  Sedangkan kadar protein tepung komposit reduksi oligosakarida adalah sekitar 8.36%-11.85%. Kadar protein paling tinggi terdapat pada formula 4 dan 14 sebesar 11.85%. Secara keseluruhan kandungan protein meningkat pada formula tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Hal ini terjadi karena terjadi penambahan kandungan protein pada tepung labu kuning pada saat proses penepungan. Proses penepungan labu kuning dengan reduksi oligosakarida menggunakan perendaman dengan enzim α-galaktosida menggunkanan starter L. Brevis. Penambahan tersebut berasal dari enzim. Enzim adalah protein yang mempunyai sifat katalik (Mubarok 2005). Kadar protein tepung komposit dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
     Hasil uji Anova dengan taraf uji α=0.05 menunjukkan bahwa komposisi tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau berbeda nyata (p≤ 0.05) terhadap kandungan protein baik pada tepung komposit tanpa reduksi maupun dengan reduksi oligosakarida. Hal ini diduga karena kandungan protein yang berasal dari kacang hijau mempengaruhi kandungan protein tepung komposit secara keseluruhan. Dengan selang 10% tepung kacang hijau pada formulasi tepung komposit dengan dan tanpa reduksi oligosakarida dapat menghasilkan kandungan protein yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Prabhavat et al (1999) menunjukkan bahwa kandungan protein pada tepung kacang hijau sebesar 27.99% (bk) atau sekitar 25.17% (bb). Nilai tersebut jauh lebih tinggi dari kandungan protein pada tepung labu kuning hasil penelitian Pongjanta et al (2006), yaitu sebesar 3.74 % (bb), dan hasil penelitian Daramola dan Osanyinlusi (2006) mengenai tepung pisang berbagai varietas menunjukkan nilai protein 1.05-3.25% (bb).

Kadar Karbohidrat
     Kadar karbohidrat tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida memiliki nilai antara 76.39% - 80.33%. Nilai paling tinggi terdapat pada formula 11 dan 15, yaitu 80.33%. Sedangkan kadar karbohidrat tepung komposit reduksi oligosakarida adalah sekitar 71.97% - 76.64%. Kadar karbohidrat paling tinggi terdapat pada formula 15 sebesar 76.64%. Secara keseluruhan kandungan karbohidrat pada formula tepung komposit dengan reduksi oligosakarida menurun, hal ini terjadi karena kandungan protein dan lemak pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida bertambah sehingga berpengaruh terhadap kandungan karbohidrat secara kasar (Menezes et al., 2004). Kadar karbohidrat tepung komposit dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4. Hasil uji Anova dengan taraf uji α= 0.05 menunjukkan bahwa komposisi baik pada tepung komposit tanpa reduksi maupun dengan reduksi oligosakarida  berbeda (p≤0.05) nyata terhadap kandungan karbohidrat tepung komposit. Dengan selang 10% dari tiap  tepung komposit baik dari tepung tanpa reduksi oligosakarida maupun dengan reduksi oligosakarida memberikan pengaruh yang nyata (p≤0.05) terhadap kadar karbohidrat tepung komposit. Hal ini terjadi diakibatkan dua jenis tepung dari 3 tepung penyusun tepung komposit merupakan sumber karbohidrat yaitu tepung labu kuning dan tepung pisang. Daramola dan Osanyinlusi (2006) menyatakan bahwa tepung pisang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Berdasarkan penelitiannya terhadap berbagai macam varietas pisang, tepung pisang memiliki kadar karbohidrat 82.0-86.05% (bb). Hasil penelitian Pongjanta et al (2006) menunjukkan bahwa tepung labu kuning memiliki kandungan karbohidrat 78.77% (bb).Disamping itu, total karbohidrat berdasarkan carbohydrat by difference sangat dipengaruhi oleh kadar abu, protein, dan lemak. Dengan meningkatnya atau menurunnya kandungan gizi tersebut dapat mempengaruhi kadar total karbohidrat sehingga hasil uji Anova menunjukkan perbedaan yang nyata (p≤0.05) terhadap kandungan karbohidrat tepung komposit.

Kadar Besi ( Fe)
     Besi merupakan mineral mikro yang esensial dalam tubuh. Di dalam tubuh berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin. Kadar besi pada tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida berkisar antara 1.36–6.48 mg/100g. Nilai tertinggi terdapat pada formula 13 dan 14. Sedangkan tepung komposit dengan reduksi oligosakarida adalah berkisar antara 7.2 – 11. 7 mg/100 g. Nilai tertinggi terdapat pada formula 2. Hasil analisis kadar besi dapat dilihat pada Tabel 5 dan 6.
     Hasil uji Anova dengan taraf uji α= 0.05 menunjukkan bahwa komposisi tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau berbeda nyata (p≤ 0.05) terhadap kadar besi tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida. Hal ini terjadi karena kandungan fe pada tepung kacang hijau tanpa reduksi oligosakarida lebih tinggi dari tepung pisang dan tepung labu tanpa reduksi oligosakarida. Hasil penelitian Mubarak (2005) menyatakan bahwa kandungan besi kacang hjau 9.67 mg/100g (bk).

Tabel 5. Hasil analisis mineral tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida
Formula
Fe (mg/100g)
Zn (mg/100g)
Ca (mg/100g)
F1
4.82±0.95
0.84±0.02
544.82±9.60
F2
5.05±1.45
1.03±0.00
444.43±21.8
F3
3.30±0.52
0.93±0.04
482.29±76.0
F4
1.61±0.73
1.00±0.12
480.01±75.9
F5
4.82±0.95
0.84±0.02
544.82±9.60
F6
3.30±0.52
0.93±0.04
482.29±76.0
F7
1.36±0.05
0.86±0.08
486.92±85.7
F8
2.60±0.10
1.01±0.02
568.59±17.5
F9
5.92±0.92
0.72±0.02
650.31±4.70
F10
1.92±0.60
0.85±0.01
708.17±46.3
F11
4.09±1.99
0.99±0.00
805.66±29.2
F12
2.60±0.10
1.01±0.02
568.59±17.5
F13
6.48±0.58
1.29±0.19
753.59±62.1
F14
6.48±0.58
1.29±0.19
753.59±62.1
F15
4.09±1.99
0.99±0.00
805.66±29.2
F16
4.55±0.44
0.97±0.01
677.74±15.0

     Lain halnya dengan tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Uji Anova menunjukkan terdapat perbedaan yang tidak nyata (p>0.05) terhadap kadar seng tepung komposit. Hal ini diduga karena terdapat peningkatan kadar besi pada saat proses penepungan kacang hijau dengan reduksi oligosakarida. Proses penepungan kacang hijau dengan reduksi oligosakarida melalui proses perendaman air selama 6 jam. Pada proses ini terjadi sedikit perkecambahan. Kecambah yang dihasilkan dari perendaman tersebut ikut dalam proses pengeringan dan penepungan. Kecambah ini yang dapat menambah kandungan besi pada tepung komposit. Peningkatan kadar besi terjadi pada saat perkecambahan kacang hijau (Mubarak 2005).

Tabel 6. Hasil analisis mineral tepung komposit dengan reduksi oligosakarida
Formula
Fe (mg/100g)
Zn (mg/100g)
Ca (mg/100g)
F1
7.33±2.25
0.91±0.13
668±30.10
F2
11.71±0.74
1.30±0.26
630±21.53
F3
10.96±0.98
1.01±0.10
582±11.29
F4
8.14±0.80
0.87±0.01
619±8.64
F5
9.44±0.79
0.84±0.03
669±18.86
F6
9.60±0.39
0.94±0.01
566±25.09
F7
11.22±0.12
0.86±0.01
626±40.35
F8
10.73±2.42
0.90±0.15
646±19.25
F9
7.69±0.24
0.78±0.00
656±4.11
F10
7.58±0.08
0.80±0.03
627±0.14
F11
8.39±0.10
0.74±0.04
701±0.11
F12
8.21±0.50
0.73±0.00
606±20.93
F13
7.94±0.76
0.82±0.00
666±0.74
F14
8.24±0.78
0.82±0.02
666±12.03
F15
7.61±0.29
0.72±0.04
668±35.39
F16
7.24±0.61
0.69±0.05
629±5.66

Kadar Kalsium (Ca)  
     Kadar kalsium pada tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida berkisar antara 444-806 mg/100 g dengan kandungan teringgi terdapat pada formula 11 dan 15. Sedangkan pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida sekitar 566-701 mg/100g  dengan nilai tertinggi terdapat pada formula 11. Hasil analisis kadar kalsium tepung komposit dapat dilihat pada Tabel 5 dan 6. Hasil uji Anova dengan taraf  uji α= 0.05 menunjukkan bahwa komposisi tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau tidak berbeda nyata (p>0.05)  terhadap kadar kalsium tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida. Hal ini terjadi karena kandungan kalsium pada tepung kacang hijau dan labu kuning tanpa reduksi oligosakarida mendominasi tepung kompoisit. Meskipun mendominasi tapi dengan selang 10% tidak mempengaruhi kandungan kalsium secara keseluruhan. Berbeda dengan kalsium pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Berdasarkan uji Anova terdapat perbedaan yang nyata (p≤0.05) pada kadar kalsium tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Hal ini diduga karena proses reduksi oligosakarida pada tepung labu kuning dengan perendaman selama 18 jam.

Kadar Seng (Zn)
     Kadar seng pada tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida berkisar antara 0.72 – 1.29 mg/100g dengan nilai tertinggi terdapat pada formula 13 dan 14. Sedangkan tepung komposit dengan reduksi oligosakarida mengandung seng sekitar 0.69 – 1.30 mg/100g dengan nilai tertinggi terdapat pada formula 2.  Hasil analisis seng dapat dilihat pada Tabel 5 dan 6.
     Hasil uji anova dengan taraf uji α= 0.05 menunjukkan bahwa komposisi tepung labu kuning, tepung pisang, dan tepung kacang hijau berbeda nyata (p≤ 0.05) terhadap kadar seng tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida. Hal ini diduga karena perbedaan kandungan seng pada komponen penyusun tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida berbeda terutama pada tepung labu kuning. Labu kuning merupakan sayuran yang memiliki kandungan seng sekitar 1.5 mg/100 bb atau sekitar 11.1 mg/100g bk (Mahmud et al 2009). Dengan selang 10% dari tepung labu kuning dapat menghasilkan tepung komposit dengan kandungan seng yang berbeda. Lain halnya pada tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Uji Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) pada kadar seng tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Hal ini terjadi karena terjadinya penurunan kadar seng pada tepung komposit akibat perlakuan reduksi oligosakarida. Proses penepungan pada tepung labu kuning dengan reduksi oligosakarida melalui tahap perendaman selama 18 jam. Perendaman ini yang dapat menyebabkan kandungan seng berkurang pada tepung labu kuning sehingga menyebabkan penambahan tepung labu kuning dengan selang 10% tidak menyebabkan pengaruh yang nyata pada tepung komposit. Donangelo et al (1995) menyebutkan bahwa penurunan.


Optimasi Formula Tepung Komposit Berbasis Labu Kuning
     Tahap optimasi merupakan tahap akhir dari RSM dengan batasan- batasan sebagai syarat dan menghasilkan solusi formula terpilih. Respon yang digunakan dalam batas-batas RSM adalah kadar protein dan beta-karoten yang terdapat pada tepung komposit. Batas protein dan beta-karoten yang digunakan adalah maksimal. Batasan-batasan ini ditetapkan untuk mendapatkan solusi formula tepung komposit berbasis labu kuning yang optimal. Kriteria ini ditetapkan pada optimasi numerik yang ada pada program RSM. Nilai variabel respon protein dan beta-karoten yang didapat dari setiap formula dimasukkan ke dalam software Design Expert trial. Selanjutnya program ini akan mengolah variabel-variabel tersebut dan memberikan beberapa solusi formula sebagai formula tepung komposit terpilih dengan target optimasi yang diinginkan. Program DX trial selanjutnya akan mengolah semua variabel respon berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan dan memberikan beberapa solusi formula tepung komposit terpilih. Nilai target optimasi yang dapat dicapai disebut sebagai desirability. Desirability memiliki nilai 0 sampai 1.0. kegiatan optimasi merupakan kegiatan untuk mencapai desirability maksimum. Namun demikian, tujuan optimasi bukan untuk mencari nilai desirability sebesar 1.0 melainkan untuk mencari kondisi terbaik yang mempertemu kan semua fungsi tujuan (Anonymous, 2005b).
     Proses optimasi merekomendasikan 3 formula terpilih tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida. Masing-masing memiliki desirability 0.949, 0.903, 0.900. Dari persamaan polinomial masing-masing respon dapat dihitung prediksi nilai kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, kadar beta-karoten, total pati, dan dayacerna pati formula terpilih. Nilai prediksi protein dan betakaroten dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Prediksi formula terbaik tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida
No
Tepung Labu Kuning (%)
Tepung Pisang (%)
Tepung Kacang Hijau (%)
Protein (%)
Beta-karoten ppm
Desirability
1
60
15
25
9.33
255.2
0.949
2
56.02
24.744
19.236
9.057
225.442
0.903
3
56.071
25
18.929
8.9
226.64
0.9
           
     Berdasarkan nilai desirability paling tinggi didapat formula terpilih dari tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida yaitu formula dengan komposisi tepung labu kuning 60 %, tepung pisang 15%, dan tepung kacang hijau 25%. Formula tersebut memiliki nilai prediksi kadar protein dan beta-karoten paling tinggi dari prediksi lain yaitu 9.33% dan 255.2%. Hal ini sesuai dengan tujuan optimasi yaitu kadar protein dan beta-karoten yang maksimal. Proses optimasi merekomendasikan 2 formula terpilih tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Formula tersebut memiliki desirability 0.644 dan 0.626. Dari persamaan polinomial masing-masing respon dapat dihitung prediksi nilai kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, kadar beta-karoten, total pati, dan daya cerna pati formula terpilih. Nilai prediksi protein dan betakaroten dapat dilihat pada Tabel 8.
     Berdasarkan nilai desirability paling tinggi didapat formula terpilih dari tepung komposit dengan reduksi oligosakarida yaitu formula dengan komposisi tepung labu kuning 60 %, tepung pisang 15%, dan tepung kacang hijau 25%. Formula tersebut memiliki nilai prediksi kadar protein lebih tinggi dan nilai betakaroten lebih rendah dari prediksi lain yaitu  11.28% dan 246.79 ppm. 

Tabel 8 Prediksi formula terbaik tepung komposit dengan reduksi oligosakarida
No
Tepung Labu Kuning (%)
Tepung Pisang (%)
Tepung Kacang     Hijau (%)
Protein (%)
Beta-karoten ppm
Desirability
1
60
15
25
11.28
246.79
0.644
2
55
20
25
10.92
254.33
0.626
           
     Setelah mendapatkan formula terpilih kemudian nilai prediksi mutu kimia hasil rekomendasi DX trial dibandingkan dengan nilai mutu kimia hasil analisa di laboratorium. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 9. Hasil analisa protein dan betakaroten dari kedua tepung terpilih tidak jauh berbeda dengan nilai prediksi yang dihasilkan program DX trial pada optimasi.  Hal ini menunjukkan bahwa optimasi tepung komposit dengan menggunakan metode RSM sesuai dengan analisa sebenarnya.



Perbandingan Formula Tepung Komposit SNI MPASI dan MPASI Komersil
     Mutu kimia dari formula terpilih tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida dibandingkan dengan formula terpilih tepung komposit dengan reduksi oligosakarida. Selain dari itu, dibandingkan pula dengan persyaratan SNI MPASI dan MPASI komersil . Perbandingan tersebut dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Kandungan kimia MPASI dalam 100 gram bahan
Sifat Kimia
Tepung Komposit Terpilih
Syarat MPASI**
MPASI Komersil
Tanpa Reduksi oligosakarida
Dengan Reduksi oligosakarida
Kadar Air (g)
4.05
7.12
-
-
Abu (g)
7.08
4.66
-
-
Protein (g)
9.24
11.17
8-22
10
Lemak (g)
1.6
3.6
6-15
6.25
Karbohidrat (g)
78.05
73.77
-
77.5
Beta-karoten (mg)
27.7
23.9
1.5-4.2
2.1
Besi (mg)
6.48
8.59
>5
3.4
Seng (mg)
1.29
0.87
>2.5
1.9
Kalsium (mg)
754
666
>200
262
Total pati (g)
74.09
64.5
-
-
Daya cerna pati (%)
Energi (kkal)
92.34*
364
84.7*
372
-
≥80
-
400
              Keterangan: *Persentase terhadap kandungan pati
                      ** SNI 01-7111.4-2005 (BSN 2005)

     Kadar air pada tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida memiliki kandungan air lebih rendah (4.05 g/100g) dari kadar air tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (7.12 g/100g). Kadar air ini lebih rendah dari kadar air tepung terigu sebesar 12% (12 g/100g) (Mahmud et al 2009), sehingga tepung komposit ini diduga memiliki daya tahan yang relatif lama.
     Kadar abu tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida menghasilkan kadar abu yang lebih tinggi (7.08 g/100g) dibandingkan kadar abu tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (4.66 g/100g). Kadar abu dari kedua tepung komposit terpilih tersebut menggambarkan kandungan mineral secara kasar. Kadar protein pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih rendah (9.24 g/100g) dari kadar protein tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (11.27 g/100g). Kandungan protein dari kedua tepung komposit terpilih masih memenuhi syarat SNI MPASI (2005) dan memiliki nilai tidak jauh berbeda dari kandungan protein MPASI komersial (10 g/100g) Persyaratan  SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan protein dalam MPASI sekitar 8-22 g per 100 gram bahan. Kadar lemak dari tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida memiliki kandungan lemak lebih kecil (1.6 g/100g) dari dari tepung komposit dengan reduksi oligosakarida (3.6 g/100g). Kandungan lemak dari kedua tepung komposit terpilih masih dibawah syarat SNI MPASI (2005) dan di bawah lemak MPASI komersial (6.25 g/100g). Persyaratan  SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan protein dalam MPASI sekitar 6-15 g per 100 gram bahan. Kandungan lemak pada MPASI berkontribusi dalam ketersediaan energi. Kadar karbohidrat dari tepung momposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida memiliki kandungan karbohidrat lebih tinggi (78.05 g/100g) dibandingkan dengan kadar karbohidrat tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (73.77 g/100). Karbohidrat berperan dalam penyediaan energi MPASI.
     Energi MPASI dihitung berdasarkan komposisi protein, lemak, dan karbohidrat pada bahan. Protein dan karbohidrat menyumbang 4 kkal per 1 gram, sedangkan lemak menyumbang 9 kkal per 1 gram. Berdasarkan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat, ketersediaan energi pada tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida adalah 364 kkal, sedangkan energi pada tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida adalah 372 kkal. Kedua energi dari tepung komposit terpilih memilki nilai sedikit lebih rendah dari energi MPASI komersial (400 kkal). Meskipun demikian nilai tersebut telah memenuhi syarat energi MPASI berdasarkan SNI 01-7111.4-2005, yaitu lebih besar dari 80 kkal.        
     Kadar besi pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih rendah (6.48 mg/100g) dari kadar seng tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (8.59 mg/100g). Kandungan besi dari kedua tepung komposit terpilih masih memenuhi syarat SNI MPASI (2005) dan memiliki nilai lebih besar dari kandungan besi MPASI komersial (3.4 mg/100g). Persyaratan  SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan besi dalam MPASI minimal tidak kurang dari 5 mg/100g.
     Kadar seng pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih tinggi (1.29 mg/100g) dari kadar seng tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (0.87 mg/100g). Kandungan seng dari kedua tepung komposit terpilih masih dibawah syarat SNI MPASI (2005) dan masih di bawah kandungan seng MPASI komersial (1.9 mg/100g). Persyaratan SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan seng dalam MPASI minimal tidak kurang 2.5 mg/100g. Kadar kalsium pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih tinggi (754 mg/100g) dari kadar kalsium tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (666 mg/100g). Kandungan kalsium dari kedua tepung komposit terpilih sudah memenuhi syarat SNI MPASI (2005) dan memiliki nilai lebih tinggi dari kandungan kalsium MPASI komersial (262 mg/100g). Persyaratan  SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan kalsium dalam MPASI minimal tidak kurang 200 mg/100g. Beta-karoten pada tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu 277 ppm (27.7 mg/100g) atau setara dengan 4616 RE/100g dibandingkan dengan tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida yaitu 239 ppm (23.3 mg/100g) atau setara dengan 3983 RE/100g. Nilai beta-karoten dari kedua tepung komposit tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi dari beta-karoten MPASI komersial yaitu 3.2 mg/100g. Beta-karoten ini berperan sebagai provitamin A. Beta-karoten dapat di konversi ke dalam vitamin A. 1 RE vitamin A setara dengan 6 μg beta-karoten. Persyaratan  SNI 01-7111.4-2005 menyebutkan bahwa kandungan vitamin A dalam MPASI adalah 250-700 RE/100g atau setara dengan 1.5-4.2 mg/100g beta-karoten. Berdasarkan tingkat kecukupan kandungan beta-karoten telah memenuhi lebih dari 100% angka kecukupan Vitamin A pada jika mengggunakan tepung komposit 100 gram.
     Kadar pati pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih tinggi (74%) dari kadar pati tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (64.6%). Dalam SNI tidak terdapat syarat mengenai kadar pati, akan tetapi kadar pati ini dapat menggambarkan kandungan karbohidrat. Kadar pati yang tinggi menggambarkan kandungan karbohidrat yang tinggi dan dapat menyumbangkan energi tinggi pada tepung komposit.Daya cerna pati pada  tepung komposit terpilih tanpa reduksi oligosakarida lebih tinggi (92,4%) dari daya cerna pati tepung komposit terpilih dengan reduksi oligosakarida (84.7%). Meskipun demikian, kedua nilai daya cerna pati tersebut tergolong tinggi. Semakin tinggi nilai daya cerna pati tepung komposit tersebut berarti semakin banyak pati yang dapat dihidrolisis dalam pencernaan.

KESIMPULAN DAN SARAN
1.   Formula terpilih tepung komposit tanpa reduksi oligosakarida memiliki komposisi  60% tepung labu kuning, 15% tepung pisang, dan 25% tepung kacang hijau serta nilai desirability 0.949  dengan karakteristik mutu kimia: kadar air 4.05%, abu 7.08%, protein 9.24%, lemak 1.6%, karbohidrat 78.05 %, beta-karoten 277 ppm, besi 6.48 mg/100g, seng 1.29 mg/100g, kalsium 754 mg/100g, total pati 74.09%, daya cerna pati 92.34%, dan energi 364 kkal. Sedangkan folmula terpilih tepung komposit dengan reduksi oligosakarida memiliki komposisi 60% tepung labu kuning, 15% tepung pisang, dan 25% tepung kacang hijau serta nilai desirability 0.644 dengan karakteristik kimia: kadar air 7.12%, abu 4.66%, lemak 4.66%, protein 11.17%, karbohidrat 73.77%, beta-karoten 239 ppm, besi 8.59 mg/100g, seng 0.87 mg/100g, kalsium 666 mg/100g, total pati 64.5%, daya cerna pati 84.7%, dan energi 372 kkal.
2.   Berdasarkan SNI 01-7111.4-2005 MPASI, tepung komposit yang dihasilkan dari penelitian memenuhi syarat energi, protein, kalsium, dan besi. Akan tetapi ada zat gizi yang masih kurang dari persyaratan yaitu lemak  dan seng. Karena tepung komposit ini hanya sebagai bahan dasar pembuatan MPASI sehingga kekurangan tersebut dapat dikombinasikan lagi dengan bahan pangan lain pada saat proses pembuatan MPASI.
3.   Perlu dilakukan penambahan bahan tepung komposit yang berasal dari serealia yang kaya akan asam amino sulfur agar kandungan asam amino dari tepung komposit ini lebih lengkap.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Sri Rahmawati mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fak.Ekologi Manusia IPB, Bogor yang telah membantu kegiatan penelitian ini sampai selesai.



DAFTAR PUSTAKA
Adeomowaye BIO, Akinwande BA, Bolarinwa IF, Adebiyi AO. 2008. Evaluation of tigernut (Cyperus esculentus)-wheat composit flour and bread. African Journal of Food Science. 2: 087-091.
Almatsier S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Anonymous. 2005a. Design Ekspert. 15 November 2009. [www.stat-ease.com.15 November 2009).
Anonymous.2005b.Teknologi budidaya tanaman pangan pisang raja bulu. http//www.iptek.net.id /ind/ teknologi pangan/indexpho [8 Juli 2009] .
Anonymous. 2005c . Badan Standardisasi Nasional. 2005. SNI 01-7111.4-2005. Jakarta: BSN.
Astawan M. 2004. Labu kuning penawar racun dan cacing pita yang kaya antioksidan. www.gizi.net [4 Juli 2009].
Daramola B & Osanyinlusi SA. 2006. Production, characterization and aplication of banana (Musa spp) flour in whole mize. African Journal of Biotechnology 5(10):992-995
Donangelo CM, Trugo LC, Trugo NMF, Eggum BO. 1995. Effect of germinasi of legume seed on cemical composition and energy utilitation in rats. J.Food Chem 53:23:27.
Giovani M. 1983. Rsponse surface methodology and product optimation. IFT Sensory Evaluation Division Program, “Aproaches to Product Optimization through Sensory Evaluation” 43rd Annual Meeting of Institut of Food Technologists. New Orleans, LA, 19-22 Juni 1983.
Hadiningsih. 2004. Optimasi formula makanan pendamping ASI dengan menggunakan response surface methodology (RSM).[Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Herman S. 2006. Masalah Kurang Vitamin A (KVA) dan Prospek Penanggulangannya. Di dalam Media Penelitian dan pengembangan kesehatan. Vol.XVIII No.4/2007.
Krisnatuti D &  R Yenrina. 2006. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Jakarta: Puspa Swara.
Mahmud MK, Hermana, NA Zulfianto, RR Apriantono, I Ngadiarti, B Hartati, Bernadus, Tinexcelly. 2009. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Menezes EW, AT de Melo, GH Lima, dan FM Lajolo. 2004. Meansurement of carbohydrat componen and their impact on energy value of foods. Journal of food composition and analysis 17: (331-338).
Mubarak AE. 2005. Nutritional composition and antinutritional factor of mungbean seeds (Phaseolus aureus) as affected by some home traditional proces. Food Chemistry 89: 489-495.
Muchtadi D. 1993. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Petunjuk laboratorium PAU Pangan dan Gizi. Bogor: IPB.
Prabhavat S, D Hengsawadi, T Lohana. 1999. Production os snacks from composite flour of fulfat soy flour addition of nata de coco. Journal Food Science and Technology 27: 715-719.
Pongjanta J, A Naulbunrang, S Kawngdang, T Manon, T Thepjaikat. 2006. Utilization of pumpkin powder in bakery products. J.Scn. Techno 28:71-79.
Salunkhe DK, Kadam SS, Chavan JK, 1985. Postharvest Biotechnology of Food Legume. Boca Raton: CRC Press.
Satuhu S & A Supriyadi. 2000. Pisang: Budidaya Pengolahan dan Prospek Pasar. Jakarta: Penebar Swadaya.
See EF, Wan NWA, Noer AAA. 2007. Phyco-chemical and sensory evaluation of bread suplemented with pumpkin flour. ASEAN Food Journal 14(2): 123-130.
Sulaeman A, Laurie K, Steve LT, David WG, Judy AD. 2004. Effect of Moisture Content of Carrot Slices on the Fat Content, Carotenoids Content and Sensory Characteristics of Deep-fried Carrot Chips. J.of Food Science  69 (6).
Winarno FG. 1995. Gizi Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Winarno FG. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Bogor; M-Brio Fress