Selasa, Mei 07, 2013

MAKALAH PPIS-BSN 2013



STANDARDISASI MUTU PRODUK TERNAK KAMBING/DOMBA
UNTUK PENINGKATAN NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING

Abubakar

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor 16114

ABSTRAK
Tekad Indonesia untuk mewujudkan swasembada daging melalui Program Swasembada Daging Sapi Kerbau (PSDSK 2014) merupakan langkah yang sudah on the right track dan harus didukung sepenuhnya karena sangat terkait dengan ketahanan dan kedaulatan pangan. Importasi sapi potong dan daging beku dari negara tetangga masih diperlukan untuk menutup kesenjangan antara tingkat konsumsi dengan tingkat produksi. Untuk mengurangi importasi sapi potong dan daging beku, masih ada ternak kambing/domba yang mempunyai potensi cukup signifikan dalam penyediaan daging nasional, dengan populasi 22 juta ekor. Sampai saat ini produksi hasil ternak kambing/domba dirasakan pemanfaatannya belum optimal oleh karena belum diterapkannya standardisasi mutu produk sehingga terjadi beragamnya produk, adanya susut hasil, kurang berdaya gunanya cara-cara penanganan dan pengolahan, mempunyai sifat mudah rusak, serta lemahnya sistem pemasaran. Standardisasi mutu produk ternak kambing/domba melalui teknologi pascapanen, diharapkan dapat menghasilkan produk ataupun hasil olahan yang bermutu, disukai konsumen sehingga meningkatkan nilai tambah dan daya saing. Untuk mendukung standardisasi mutu produk tersebut diperlukan strategi peningkatan produk hasil ternak yang bermutu dan aman (food safety), yaitu melalui pemilihan bibit ternak yang unggul, pemberian pakan dengan mutu baik, tatalaksana pemeliharaan yang baik, pengendalian penyakit, teknologi pascapanen yang tepat guna, serta menerapkan prinsip-prinsip pengamanan sejak ditingkat produsen, perantara dan tingkat pemasaran selanjutnya sampai konsumen secara aman dikonsumsi. Melalui penerapan standardisasi mutu produk ternak kambing/ domba diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk, nilai tambah dan daya saing sekaligus dapat mendukung PSDSK khususnya dan pembangunan subsektor peternakan pada umumnya.

Kata kunci: kambing/domba, standardisasi mutu,nilai tambah, daya saing


The quality standardization of lamb or sheep’s product
 for enhaNcement of added-value and competitiveness

ABSTRACT
Political will of Indonesia government  in realizing  self supporting of meat through the program of self supporting of cow and buffalo meat  (PSDK 2014)  has been right on the track and should be totally encouraged because it is related to the food security and food sovereignity. The import of of beef cattle and frozen meat from neighbouring country is still required to close the gap between consump tion and production in Indonesia. To reduce the import of beef cattle and frozen meat, there is sheep or lamb live stock with 22 milion head population  that have significant potential enough in providing of national meat. Nowadays, the production of sheep or lamb has not satisfied yet, because the quality standardisation of product has not been realized yet, therefore, there are many variation of product, quality and quantity loss, less efficient of handling and processing, perishable and the weakness of marketing system. Standardization of quality of product of lamb or sheep’s livestock through the practices of  postharvest  technology is expexted to produce the meats or the processed ones which has best quality and preferred by consumer, so that it will increase value and competitiveness. The strategy for enhancement of the quality and food safety of livestock product is required to support that standardization by choosing the superior livestock breeds, providing quality feeds, the good husbandry procedure, disease control, application of appropriate postharvest technology, as well as realizing of the safe keeping principles at every point of supply chains. Through  the aplication of standardization,  quality of goat or sheep’s product is expected to be improved, as well as its value added, and competitiveness, especially to support PSDK and the development of livestock subsector in general.

Key words:  sheep/lamb, standardization, quality, adde -value, competitiveness


PENDAHULUAN

          Pemerintah melalui Permentan No.19 Tahun 2010 menargetkan swasembada daging sapi pada tahun 2014, melalui Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK 2014). Sejumlah program, penyediaan daging sapi dari dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 67 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada 2014. Upaya swasembada daging sapi akan ditempuh melalui sejumlah program, di antaranya memperbanyak jumlah populasi sapi induk melalui program kredit usaha pembibitan sapi (Anonymous, 2009b). Untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri masih ada ternak kambing/ domba yang mempunyai potensi cukup signifikan dalam penyediaan daging nasional, dimana sampai saat ini populasi kambing sekitar 14,5 juta ekor dan domba 7,5 juta ekor atau total 22 juta ekor, hal ini menunjukkan bahwa kontribusi daging kambing/domba pada konsumsi daging nasional mencapai 6 persen (Anonymous, 2012).
      Ternak kambing/domba, merupakan ternak herbivora yang sangat populer dikalangan petani di Indonesia terutama yang tinggal di pulau Jawa. Jenis ternak ini mudah dipelihara, dapat memanfaat kan limbah dan hasil ikutan pertanian dan industri, mudah di kembangbiakkan, dan pasarnya selalu tersedia setiap saat serta memerlukan modal yang relatif sedikit dibanding ternak besar. Kemampuan ternak ini untuk memanfaatkan hijauan sebagai bahan makanan utama menjadi daging, menempat kan ternak kambing/domba sebagai bagian yang cukup penting artinya bagi perekonomian nasional pada umumnya, maupun kesejahteraan keluarga petani di pedesaan pada khususnya. Kambing/ domba tersebar luas  di daerah pedesaan dan biasanya dipelihara dengan tujuan sebagai tabungan hidup maupun sebagai ternak potong / ternak penghasil susu untuk dikonsumsi keluarga disamping kotorannya dapat dipergunakan untuk pupuk yang baik bagi tanaman. Pemeliharaan ternak ini di pedesaan merupakan bagian  dari usaha tani secara keseluruhan dalam skala yang relatif kecil dengan rataan jumlah kepemilikan sebanyak 3-5 ekor/keluarga petani. Keadaan ini membuktikan bahwa ternak kambing/domba belum mendapatkan perhatian yang besar dalam hal peningkatan potensinya sebagai pemasok daging untuk dapat ditingkatkan kepada skala produksi yang secara ekonomik memberikan keuntungan yang optimal.
       Menurut penelitian, di pulau Jawa diperkirakan bahwa ternak kambing/domba dapat dijumpai pada satu dari hampir setiap lima rumah tangga petani di pedesaan. Kenyataan ini menunjukkan besarnya peranan ternak di pedesaan dan penting artinya bagi perekonomian masyarakat  petani di Indonesia. Ternak kambing/domba, disamping sebagai penghasil daging, juga mempunyai potensi sebagai penghasil kulit yang bernilai ekonomi tinggi, sedangkan khusus kambing perah disamping sebagai penghasil susu, juga meghasilkan daging setelah diafkir sebagai kambing perah disamping itu juga menghasilkan kulit, tulang, tanduk dan kotoran yang sangat bermanfaat (Anonymous, 2005). Peningkatan produksi hasil peternakan yang sudah baik telah mendorong dan sekaligus merupakan tantangan dalam teknologi pascapanen (penanganan dan pengolahan) hasilnya, sehingga produksi hasil ternak dapat dimanfaatkan secara optimal guna meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan gizi masyarakat, memperluas lapangan kerja, meningkatkan ekspor dan mengurangi impor serta memberikan dukungan yang kuat terhadap pembangunan (Abubakar, 2004). Disamping produk utama (daging, susu), hasil ikutan dari ternak seperti kulit dan tulang serta kotorannya juga mempunyai potensi yang besar dalam memberikan nilai tambah dari sub sektor peternakan. Sifat produksi hasil ternak yang mudah rusak dan kondisi lingkungan Indonesia dengan temperatur dan kelembaban yang cukup tinggi akan mempercepat proses kerusakan komoditi, maka untuk itu diperlukan penerapan standardisasi mutu produk melalui teknologi pascapanen sehingga mutu hasil ternak tetap terjaga dan sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk.

 Teknologi  PascaPanen KAMBING/DOMBA

Teknologi Pascapanen Daging
        Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014, menyebutkan bahwa sasaran produksi daging sapi tahun 2010 sebesar 412 ribu ton, dan pada tahun 2014 sebesar 546 ribu ton (pertumbuhan 7,30%/ tahun), dengan sasaran konsumsi daging sapi tahun 2010 sebesar 2,7 kg/kap/tahun dan pada tahun 2014 sebesar 3,3 kg/kap/tahun, sementara sasaran produksi daging kerbau tahun 2010 sebesar 42 ribu ton dan pada tahun 2014 sebesar 55,4 ribu ton (pertumbuhan 0,32%/tahun) dan sasaran produksi daging kambing/domba tahun 2010 sebesar 133 ribu ton dan pada tahun 2014 sebesar 161 ribu ton (pertumbuhan 4,95%/tahun) (Anonymous, 2009b). Daging kambing/ domba untuk konsumsi pada umumnya dihasilkan dari jenis-jenis lokal pedaging atau afkir dari kambing penghasil susu antara lain, kambing etawah, kacang, bali/gembrong, domba garut, dll. Hasil utama kambing-domba tipe pedaging adalah berupa karkas yaitu tubuh kambing-domba yang telah dihilangkan bagian-bagian isi perut, kepala, kaki dan kulit (Abubakar, 2010). Sebagian besar manfaat dari produk pangan hewani yang dikonsumsi manusia adalah daging, karena daging merupakan bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia (Wilson, et al. 1991, dalam Abubakar. 2004).
        Orang makan daging dipengaruhi oleh berbagai alasan antara lain tradisi, nilai gizi tinggi, kesehatan, variasi, bersifat mengenyangkan dan prestise (gengsi). Faktor kualitas daging yang dimakan terutama meliputi warna, keempukan dan tekstur, flavor dan aroma termasuk bau atau rasa/aroma, juice daging. Disamping itu lemak intramuskular, susut masak, retensi cairan, pH daging ikut menentukan kualitas daging.  Salah satu penilaian mutu daging adalah sifat keempukan yang dapat dinyatakan dengan sifat mudah dikunyah (Soeparno, 1994 dalam Abubakar dan Usmiati, 2011a). Teknologi pangan yang utama harus diterapkan adalah teknologi penanganan daging segar, terutama teknologi sanitasi (Pearson dan Tauber, 1994 dalam Abubakar dan Usmiati, 2011a).
        Komposisi kimia daging yang utama adalah air, protein, lemak dan abu. setiap 100 gram daging rata-rata dapat memenuhi kebutuhan gizi orang dewasa setiap hari sekitar 10 % kalori, 50% protein, 35% zat besi, dan 25-60% vitamin B komplek. Secara umum daging terdiri dari protein 18%, lemak 3,5%, bahan ekstrak tiada nitrogen 3,3%, air 75% dan karbohidrat berupa glikogen dalam jumlah sedikit (Zweigert, 1991, dalam Abubakar. 2004). Protein daging bersifat lengkap karena mengandung semua asam amino essensial dan masing-masing terdapat dalam susunan yang seimbang. Susunan asam amino essensial  protein daging mendekati pola susunan asam amino yang diperlukan oleh tubuh manusia. Lemak merupakan komponen utama dalam daging. Lemak berfungsi sebagai pembentuk energi dan komposisi lemak terdiri dari gliserol dan asam lemak. Karbohidrat merupakan komponen yang memegang peranan utama didalam bahan-bahan organik. Kebanyakan karbohidrat didalam jaringan tubuh hewan terdiri dari polisakarida komplek dan beberapa diantaranya berkaitan dengan komponen protein dan sulit dipisahkan, glikogen merupakan karbohidrat yang utama didalam daging (Price dan Schweigert, 1988, dalam Abubakar dan Usmiati, 2011b).
        Daging yang disimpan pada suhu kamar pada waktu tertentu akan cepat rusak. Kerusakan daging yang menyebabkan penurunan mutu daging segar terutama disebabkan oleh mikroorganisme. Daging akan terkontaminasi secara internal apabila tidak didinginkan setelah pemotongan hewan. Jumlah dan jenis mikroorganisme yang mencemari permukaan karkas dan daging ditentukan oleh penanganan sebelum penyembelihan hewan dan tingkat pengendalian hiegines yang dilaksanakan selama penanganan pada saat penyembelihan dan pembersihan karkas hingga daging dikonsumsi (Abubakar, 2004). Untuk mengatasi atau mengurangi kontaminasi diperlukan penanganan yang hieginis dengan sistem sanitasi yang sebaik-baiknya. Besarnya kontaminasi mikroba pada daging akan menentukan kualitas dan masa simpan daging.
        Menurut Buckle et, al (1985) dalam Abubakar dan Usmiati (2011a) penyimpanan suhu rendah telah lama digunakan sebagai salah satu cara pengawetan bahan pangan, karena dapat mempertahankan cita rasa dan menghambat kerusakan bahan pangan tersebut. Dalam lemari pendingin suhu dapat dicapai jauh lebih rendah dari pada menyimpan dengan es, juga dapat digunakan untuk menyimpan berbagai bahan pangan dalam waktu terbatas. Pendinginan dapat memperlambat kecepatan reaksi metabolisme keaktifan respirasi sehingga pertumbuhan bakteri dan kebusukan dapat dihambat. Semakin rendah suhu lingkungan, enzim menjadi semakin berkurang. Daging yang masih hangat akan menurunkan suhu ruang pendingin, jumlah daging didalam ruang pendingin sebaiknya tidak berlebihan. Pendinginan daging adalah penyimpanan daging pada suhu ruangan dengan suhu lebih rendah dari 2oC. Faktor yang mempengaruhi laju pendinginan antara lain adalah panas spesifik daging atau kapasitas panas, berat ukuran daging, jumlah daging dalam ruangan pendingin dan jarak antar daging.Daging telah diketahui sebagai bahan yang mudah rusak, hal ini disebabkan karena komposisi gizinya yang baik untuk manusia maupun mikroorganisme, dan juga karena pencemaran permukaan pada daging oleh mikroorganisme perusak. Menurut Buckle et,al (1985) dalam Abubakar dan Usmiati (2011a) sampai saat ini suhu rendah selalu digunakan untuk memperlambat kecepatan berkembangnya pencemaran permukaan dari tingkat awal sampai tingkat akhir dimana terjadi kerusakan. Waktu yang diperlukan untuk perkembangan mikroorganisme semacam itu merupakan ukuran ketahanan penyimpanan.
     Istilah “penyimpanan dingin” biasanya diartikan sebagai penggunaan suhu rendah dalam kisaran 10 sampai 3,50 C , suhu yang jauh melebihi permulaan  pembekuan otot, tetapi masih berada dalam suhu optimum – 20 C dan 70C bagi pertumbuhan organisme psikorofilik (Zweigert, 1991, dalam Abubakar dan Usmiati, 2011b). Jadi hal terpenting dalam pemasaran daging yang disimpan pada suhu dingin adalah penjualan yag secepat mungkin berdasarkan pada daya tahan yang tidak lebih dari 3 – 5 hari. Suhu dingin harus tetap terjaga selama penyimpanan dalam jumlah besar, distribusi, penyimpanan di pengecer dan penjualan. Cara ini sangat banyak dipergunakan di kota – kota modern, dan tergantung pada pemotongan ternak dalam jumlah besar dengan distribusi berantai dan penyimpanan dingin (dalam lemari es) di rumah konsumen. Kerusakan daging yang diproduksi dan dipakai setempat dapat dihindari dengan cara menggunakan daging itu secepatnya. Bila diperlukan waktu simpan yang lebih dari 5 hari seperti halnya daging yang disiapkan untuk diekspor ke kota lain atau negara lain, maka suhu 10 sampai 3,50C tidak lagi memadai dan harus digunakan suhu yang lebih rendah, bersama-sama dengan cara-cara lain yang ada untuk mengurangi kecepatan kerusakan oleh mikroorganisme. Faktor-faktor ini menurut Buckle, et al (1985) dalam Abubakar dan Usmiati (2011b) antara lain adalah: 1) pengurangan tingkat pencemaran awal sampai akhir ke tingkat serendah mungkin dengan penggunaan prinsip-prinsip higiene yang ketat selama penyembelihan dan penanganan karkas. 2) pemilihan suhu terendah yang dapat menghindarkan pembekuan bagian tipis dari pada karkas dan pengawasannya seketat mungkin, dalam pelaksanaannya suhu ini adalah -1,50C-0,20C. 3) dalam hal karkas, pemilihan kondisi penyimpanan supaya terdapat kelembaban relatif 81-87 % sehingga pengeringan permukaan yang mencapai  2-4 % dari berat karkas terjadi di permukaan. Hal ini akan menghalangi pertumbuhan bakteri. 4) penambahan kedalam atmosfer penyimpanan sampai 25 % CO2 yang akan mengakibatkan penurunan kecepatan pertumbuhan mikroorganis me. Jumlah CO2 yang melebihi 25 % cenderung untuk mempercepat pembentukan metmioglobin yang tak diinginkan dan harus dihindari. 5) penggunaan daging dengan pH rendah, sebaiknya dibawah pH 5,8. 6) pengurangan waktu proses pendinginan karkas ke tingkat yang minimum.
     Menurut Soeparno (1994) dalam Abubakar (2004) pembekuan atau penyimpanan beku daging dilaksanakan pada suhu dimana mikroorganisme tidak akan tumbuh dan pada suhu dimana daging masih cukup keras dan tahan  pada penimbunan secara besar-besaran. Dalam pelaksanaannya  ini berarti penggunaan suhu dibawah – 15 0C. Daging, seperti bahan biologis yang lain tidak mempunyai titik beku tertentu, akan tetapi mempunyai kisaran titik beku, jumlah air yang terdapat sebagai es ditentukan oleh rendahnya suhu. Jadi pada suhu 00C tidak terdapat es, pada suhu – 10 0C kira – kira 83 % dari air yang ada membeku dan pada – 30 0C kira-kira 89% beku dan baru pada suhu dibawah – 400C semua air yang ada membeku. Saat air mulai membeku kecepatan pembentukan es ditentukan oleh kecepatan penghilangan panas dan kecepatan penyebaran air dari struktur sel disekitarnya. Pada kecepatan beku yang rendah, terbentuk beberapa pusat kristalisasi yang menyebabkan timbulnya kristal – kristal es yang besar yang menyebabkan pecahnya sel dan banyak air yang hilang bila daging dicairkan. Pada kecepatan yang tinggi, jumlah kristal es bertambah dan ukuran kristal tetap kecil. Dan bila daging dicairkan hilangnya cairan tidak akan terlalu banyak. Pendinginan daging tanpa tulang dari 100C menjadi – 120C membebaskan panas kira –kira 250 Kj  per kilogram daging, dimana sebagian besar dari panas ini adalah panas laten yang dibebaskan pada perubahan air menjadi es didalam daging.
        Jenis olahan daging yang telah populer dalam dunia industri pengolahan pascapanen adalah: bakso, kornet, nugget, abon, dendeng, burger, nugget, sosis, dan daging asap.  Sedang kan teknologi pemotongan dan penanganan daging sebelum pengolahan adalah berupa pembelahan karkas digantung pada kaki belakang dan kepala menghadap ke bawah dan pembelahan dilakukan persis membelah tulang punggung sampai ke tulang leher. Kemudian belahan kiri dan kanan tersebut dipotong atas bagian-bagian paha, lulur, lambung, rusuk, dada, bahu dan kaki depan, (Cadavez, 2009).
       Konsumsi daging kambing/domba di Indonesia memiliki kecenderungan hanya berlangsung dengan lonjakan sporadis pada saat-saat tertentu saja. Pasokan domba/kambing di Indonesia saat ini masih terfokus memenuhi kebutuhan daging hewan kurban saat idul adha, aqiqah, serta konsumsi daging potong untuk kuliner. Sementara itu, segmen untuk pemasaran lain dalam bentuk produk olahan belum berkembang dengan baik. Umumnya, konsumsi daging harian terdesak oleh daging sapi dan daging ayam. Konsumsi daging domba/kambing oleh masyarakat masih sangat rendah hanya sekitar 5%. Bagi kebanyakan orang di Asia, Timur Tengah, Amerika  Latin dan Afrika, daging kambing merupakan makanan yang dipercaya mempunyai khasiat yang tinggi dibanding daging sapi. Di Taiwan, daging kambing dipercaya mempunyai khasiat menghangatkan badan sehingga merupakan menu yang digemari di musim dingin.  Peningkatan konsumsi daging domba/kambing oleh masyarakat Indonesia masih ada tantangan yang harus diatasi. Selama ini ada suatu anggapan bahwa daging domba/ kambing merupakan sumber kolesterol, akibatnya masyarakat membatasi konsumsi daging domba/kambing. Padahal, resiko tingginya kolesterol juga dapat dipicu oleh berbagai produk makanan lain. Penggunaan minyak atau lemak trans atau minyak yang dipanaskan berulang pada suhu tinggi dalam penyiapan menu makanan sehari-hari juga dapat menyebabkan tingginya kolesterol dalam tubuh. Bila dilihat dari kandungan kolesterol, daging kambing mengandung kolesterol 5-39 mg/100 gram, sedangkan daging sapi dan domba sekitar 42-47 mg/100 g dan 52-77 mg/100 g (Nutrition Society of Australia, 1997 dalam Sumarmono, 2003). 
Saat ini produk olahan kambing/domba yang ada dimasyarakat adalah sate dan tongseng. Pada proses pembuatan sate melalui pembakaran, akan dihasilkan zat karsinogenik yang tinggi dibandingkan yang diolah dengan cara perebusan (Rahyussalim, 2003 dalam Tiven et.al., 2007). Selain itu selama pembakaran, banyak zat gizi yang keluar. Daging kambing yang dibuat tongseng goreng mengandung lemak yang tertimbun dalam serat daging, sehingga mengandung kolesterol yang tinggi (Adisusetyanto, 2005 dalam Tiven et al., 2007). Beberapa cara pengolahan yang aman untuk daging kambing/domba adalah pengolahan produk olahan daging berjel seperti bakso, sosis dan nugget/burger, produk dengan preparasi perebusan seperti abon, dan produk seasoning rempah-rempah seperti dendeng. Jenis-jenis olahan tersebut selama ini telah banyak dikembangkan dengan basis daging sapi dan unggas.
Masalah kekhawatiran masyarakat terhadap kandungan lemak dan kolesterol pada olahan daging harus dijawab melalui pengembangan produk rendah lemak dan kolesterol. Untuk produk rendah lemak dapat dilakukan dengan metode pengaturan lemak sebelum dan sesudah panen (Legowo, 2007). Beberapa alternatif untuk mengurangi kandungan lemak dan kolesterol selama pascapanen diantaranya adalah dengan pengurangan lemak pada daging secara langsung. Pengurangan lemak daging inter-muskuler dapat dilakukan dengan teknik penghilangan secara fisik (trimming), pengempaan, pemanasan, atau cara kombinasi. Disamping cara langsung, saat ini telah dikembangkan metode substitusi lemak pada daging dan produk olahannya atau penggunaan fat replacer yang memiliki sifat seperti lemak tetapi rendah kalori, dan digunakan sebagai aditif dalam produk makanan kecil (Tranggono, 2001, dalam Abubakar, 2004).
Substitusi bahan tertentu dapat menurunkan kadar lemak secara proporsional dan menghasilkan citarasa serta sifat menarik. Penggunaan putih telur sebagai pengganti lemak dalam produk olahan daging telah dicoba untuk bakso (Liu et al., 1999, dalam Abubakar, 2004). Modifikasi produk dengan pencampuran bahan fungsional tertentu dapat memperbaiki karakteristik produk rendah lemak setelah dioven ’microwave’ (Taki, 1991, dalam Abubakar dan Usmiati, 2011a). Beberapa bahan fungsional yang telah dicoba yaitu polisakarida, protein susu atau kedele, serat dari ’oat’ dan beras, minyak dan ’shortening’. Pemberian protein kedele untuk mensubstitusi lemak dapat memperbaiki tekstur produk (Hoogenkamp, 2002, dalam Sunarlim dan Usmiati, 2006). Hasil penelitian Sunarlim dan Usmiati (2006) menunjukkan bahwa jenis ternak ruminansia kecil (Kambing/domba) berpengaruh terhadap bobot hidup, bobot karkas, bobot daging paha, bobot daging tetelan, bobot tulang, dan derajat kemerahan, sedangkan jenis kelamin mempengaruhi bobot karkas, persentase karkas, bobot tulang dan keempukan daging. Domba memiliki profil karkas yang lebih baik dibandingkan karkas kambing berdasarkan tingginya bobot karkas (12,12 kg), bobot daging paha (1892,50 gram), dan bobot daging tetelan (1162,83 gram) serta rendahnya bobot tulang (1443,30 gram) dengan nilai bobot daging total, daging lulur, perlemakan, keempukan dan susut masak yang relatif sama dengan daging kambing (Sunarlim dan Usmiati, 2006).
       Hasil penelitian Usmiati dan Setyanto (2008) menunjukkan bahwa domba memiliki profil karkas lebih baik dibandingkan karkas kambing berdasarkan tingginya bobot karkas (10,59 kg), bobot daging total (2892,93 g), bobot daging paha (1706,67 g), bobot daging tetelan (959,17 g), dan bobot daging lulur (327,33 g), rendahnya bobot tulang (1379,50 g) serta tingkat keempukan yang baik. Berdasarkan kandungan lemak yang rendah pada ternak betina umur muda, penampilan karkas kambing lebih baik bagi masyarakat yang sedang melakukan diet ketat. Berdasarkan publikasi yang dilakukan oleh USDA, daging kambing mentah memiliki kandungan lemak 50 %-65 % lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi, akan tetapi kandungan proteinnya hampir sama.Daging kambing juga memiliki kandungan lemak 42 %-59 % lebih rendah jika dibandingkan dengan daging domba. Hal yang sama juga dilaporkan untuk daging yang sudah dimasak. Persentase lemak jenuh daging kambing 40% lebih rendah jika dibandingkan dengan daging ayam (tanpa kulit) dan masing-masing 850%, 1.10 %, dan 90 % lebih rendah jika dibanding kan dengan daging sapi, babi, dan domba. Berdasarkan hasil penelitian, asam lemak yang terkandung pada daging kambing sebagian besar (68,5-72,3%) terdiri dari lemak tidak jenuh.Daging kambing mengandung asam lauric, myristic, dan palmitic yang merupakan asam lemah tidak jenuh yang tergolong kedalam kelompok nonhypercholesterolemic masing-masing sebanyak 2,0 ; 2,6, dan 27,6%. Disamping itu, daging kambing mengandung asam lemak tidak jenuh oleic (C:18.1) sebanyak 30,1-37,0%,linoleic (C18.2) sebanyak 13,4%, dan linolenic (C:18.3) sebanyak 0,4%.Kandungan kolesterol daging kambing ternyata dengan daging sapi, domba, babi, dan ayam dan lebih rendah jika dibandingkan dengan beberapa produk susu dan daging ayam olahan dan makanan asal laut. Daging kambing mengandung kolesterol sebanyak 76 %, sedangkan untuk daging sapi, ikan dan domba adalah 70%. Kandungan kolesterol daging babi dan ayam adalah 60%.Tingkatan kolesterol darah kita kurang tergantung pada kolesterol yang terkandung pada makanan yang kita konsumsi. Kandungan kolesterol dalam darah lebih banyak tergantung pada jumlah asam lemah jenuh yang kita konsumsi, terutama rasio antara lemak polysaturated terhadap lemah jenuh (Polewa, 2011). Asam lemak polysaturated dan asam lemak monosaturated berada dalam kondisi tidak terlalu padat suhu ruang, sehingga tidak jarang kita melihat ada tetesan lemak pada karkas kambing yang digantung.Pengamatan terhadap tetesan lemak ini dapat digunakan sebagai salah satu metode sederhana untuk menentukan derajat kejenuhan lemak. Hasil penelitian seperti yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa kambing tanpa mempertimbangkan umur, bangsa, dan daerah pemeliharaannya berperan dalam menyediakan daging berkualitas tinggi dan juga sumber lemak yang sehat dengan risiko mengonsumsi kolesterol yang minimum.Disamping itu, daging kambing mengandung lebih banyak zat besi, potassium, dan tiamin yang berhubungan dengan kandungan garam yang lebih rendah.Daging kambing mengandung semua asam amino esensial dan mengandung lebih rendah kalori. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa daging kambing tergolong ke dalam bahan makanan yang bersahabat dan sehat untuk dikonsumsi, asalkan saja tidak secara berlebihan (Polewa, 2011). Hasil penelitian Miskiyah dan Usmiati (2007) menunjukkan bahwa jenis ternak (kambing muda lokal dan domba muda lokal) mempengaruhi bobot potong, bobot karkas, bobot daging, bobot daging tetelan, derajat kemerahan dan keempukan. Sedangkan jenis kelamin (betina dan jantan) hanya mempengaruhi bobot daging tetelan, bobot lemak dan bobot tulang.  Karkas domba muda lokal mempunyai karakteristik yang lebih baik dibandingkan dengan karkas kambing muda lokal berdasarkan tingginya bobot potong (18,800 kg), bobot karkas (9,067 kg), bobot daging (2573,617 g), bobot daging tetelan (755,500 g), dan keempukan (3,587 kg), dengan nilai persentase karkas, bobot tulang, bobot daging lulur, bobot daging paha, dan susut masak yang hampir sama (Miskiyah dan Usmiati, . 2007)

Teknologi Pascapanen susu
         Menurut laporan Dirjen Peternakan, konsumsi susu dari 6,8 liter/kap/tahun pada tahun 2005, menjadi 7,7 liter/kap/tahun pada tahun 2008. Pada tahun 2009, produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 25,11% dari total kebutuhan nasional. Sementara itu Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014, menyebutkan bahwa sasaran produksi susu sapi segar tahun 2010 sebesar 726 ribu ton dan pada tahun 2014 sebesar 1297 ribu ton (pertumbuhan 15,56 %/tahun).   
      Susu merupakan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi yang dapat diperoleh dari hasil pemerahan hewan seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan hewan lainnya. Komponen-komponen yang penting dalam air susu adalah protein, lemak, vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan beberapa mikroba (Lampert, 1980, dalam Usmiati dan Abubakar, 2009).
        Komposisi susu dapat dikatakan sangat beragam tergantung pada beberapa faktor, antara lain bangsa, tingkat laktasi, pakan, interval pemerahan, temperatur dan umur, akan tetapi angka rata-rata untuk semua jenis kondisi dan jenis kambing perah adalah sebagai berikut: kadar air 87,81%, lemak 4,09 %, protein 3,71 %, laktosa 4,20 %, kadar abu 0,79% dan beberapa vitamin yang larut dalam lemak susu, yaitu vitamin A, D, E dan K (Handerson, 1981 dan Buckle et, al. 1985, dalam Usmiati dan Abubakar 2009). Beberapa kerusakan susu akibat aktivitas mikroorganisme antara lain adalah: 1) pengasaman  dan penggumpalan yang disebabkan karena fermentasi laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan turunnya pH dan kemungkinan terjadinya penggumpalan kasein. 2) berlendir seperti tali yang disebabkan karena terjadinya pengentalan dan pembentukan lendir sebagai akibat pengeluaran bahan seperti kapsul dan bergetah oleh beberapa jenis bakteri. 3) penggumpalan susu yang timbul tanpa penurunan pH, hal ini disebabkan oleh bakteri seperti Bacillus cereus yang menghasilkan enzim yang mencerna lapisan tipis fosfolipid disekitar butir-butir itu menyatu membentuk suatu gumpalan yang timbul kepermukaan susu. Sifat-sifat fisik dan kimiawi susu adalah: kerapatan susu bervariasi antara 1,0260 dan 1,0320 pada suhu 20oC, pH susu segar berada antara 6,6-6,7 dan warna susu yang normal adalah putih kebiru-biruan sampai kuning kecoklatan. Cita rasa susu, menyenangkan dan agak manis, dimana rasa manis berasal dari laktosa, sedangkan rasa asin berasal dari klorida. Penggumpalan susu merupakan sifat yang paling khas, yang diakibatkan kegiatan enzim atau penambahan asam (Handerson, 1981, dalam Usmiati dan Abubakar, 2009).
        Produk-produk olahan susu kambing yang sudah dikenal dalam industri pengolahan adalah: susu pasteurisasi, homogen, susu skim dan es krim, mentega, keju, susu kental, susu bubuk, yoghurt, dadih, dali, kefir, es krim, karamel / kembang gula susu, dodol susu, dan krupuk susu.

Teknologi Pengolahan kulit
        Kulit ternak kambing/domba dapat dijadikan sebagai bahan pokok pembuatan sepatu, sandal, dompet, tas, ikat pinggang, jaket, dll. Sebelum digunakan sebagai bahan industri, kulit segar harus diproses yaitu dibersihkan, diberi garam, dikeringkan dengan matahari, dan disamak. Pada prinsipnya penyamakan kulit terdiri dari tujuh tahapan utama, yaitu: pengeringan awal, perendaman dalam larutan kapur, pencukuran bulu, pemberian obat-obatan dengan cara perendaman, pengeringan akhir, peregangan dan penghalusan dan pengkilapan akhir. Berdasarkan fungsinya, kulit yang sudah disamak dan sudah siap digunakan sebagai bahan pokok industri ada tiga golongan yaitu, kulit kalf, kulit sol dan kulit lapisan dalam. Kulit kambing dapat dibuat sebagai kulit kalf dan kulit lapisan dalam, sedangkan kulit sol biasanya berasal dari kulit sapi (Abubakar, 2004).

Teknologi Pengolahan limbah
        Kotoran ternak dapat digunakan sebagai pupuk kandang, dan mempunyai keunggulan dibanding kan pupuk alam lainnya, kotoran ternak mengandung unsur N, P dan K, yang lebih tinggi dari pupuk hijau dan kompos yaitu 0,95 % N, 0,35 % P205, dan 1,0% K20 (Subagyo dan Samad, 1985, dalam Abubakar dan Usmiati, 2011a). Selain itu kotoran ternak dapat digunakan sebagai gas bio dan bahan makanan ternak, karena diduga mengandung vitamin B12 yang dapat merangsang pertumbuhan ayam atau ternak lain (Wiryosuhanto, 1985 dalam Abubakar, 2004). Kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling umum dijumpai terutama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Zat gizi yang mempunyai peranan penting dalam tubuh yaitu mineral zat besi, phospor dan kalsium. Karena kekurangan zat besi sangat besar pengaruhnya dalam proses terjadinya kekurangan gizi maka seringkali istilah anemia gizi diidentikkan dengan istilah anemia besi. Kekurangan besi adalah penyebab utama terjadinya anemia, yang menurut beberapa pakar gizi digambarkan sebagai suatu kondisi menurunnya jumlah sel darah merah, sehingga kadar hemoglobin dalam tubuh berada di bawah normal. Sumsum tulang yang berfungsi sebagai tempat pembentukan sel-sel darah merah diyakini mengandung Fe yang siap digunakan untuk pembentukan sel darah merah. Sumsum tulang sebelum digunakan  terlebih dahulu ditentukan kadar Fe-nya. Metode yang digunakan ialah destruksi dengan menggunakan HCl yang kandungan Fe-nya diukur dengan spektrofotometer pada λ 460 nm dan Spektroskopi Absorpsi Atom (AAS) pada λ 248.3 nm. Dari hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa kandungan Fe pada sumsum tulang dengan metode spektrofotometri sebesar 109 ppm (0.0109%), sedangkan dengan AAS sebesar 175.75 ppm (0.0176%) (Abubakar et al., 2004).Menurut Abubakar et al., (2004), tulang juga mengandung kalsium, yang merupakan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, khususnya bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, wanita hamil, dan orang tua. Kalsium banyak terdapat dalam tulang, oleh karena itu tulang ternak sebagai produk samping atau limbah dari pemotongan hewan ternak dapat digunakan sebagai suplemen kalsium.  Kadar kalsium tulang telah diukur dengan dua metode, yaitu metode permanganometri dan Spektroskopi Absorpsi Atom (AAS). Dari metode permanganometri diperoleh kadar kalsium tulang sebesar 1,56%, sedangkan dari metode AAS sebesar 18,45%.Rendemen tepung tulang terhadap tulang diperoleh sebesar 60,86% (b/b). Dari hasil uji kualitatif, tepung tulang mengandung klorida, kalsium, fosfat, magnesium, dan besi, sedangkan sulfat ditemukan dalam jumlah sangat kecil. Dari hasil uji proksimat, tepung tulang mempunyai kadar air sebesar 0,26%, kadar abu sebesar 48,55%, dan kadar lemak sebesar 2,34% (Abubakar et al., 2004).

STANDARDISASI MUTU PRODUK TERNAK KAMBING/DOMBA
       Hasil ternak merupakan bahan yang sangat mudah rusak sehingga perlu segera dilakukan penanganan. Diversifikasi olahan produk ternak melalui teknologi pascapanen (penanganan/ pengawetan dan pengolahan) dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Standardisasi mutu produk melalui teknologi pascaoanen lahan hasil ternak diharapkan dapat mengamankan hasil produksi terhadap penurunan mutu agar dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil ternak, baik dari segi bobot, bentuk fisik, rupa dan gizi maupun rasa, bebas dari jazat renik  patogen serta residu bahan kimia, sehingga produk aman (food safety) dan dapat memenuhi persyaratan pasar dalam dan luar negeri serta agroindustri pengolahan (Abubakar, 2004).
     Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan sesudah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain, genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan termasuk bahan aditif. Faktor setelah pemotong an adalah metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, pH karkas, bahan tambahan termasuk enzim pengempuk, hormon, lemak intra muskular atau marbling, metode penyimpanan dan preservasi, macam otot daging dan lokasi pada suatu otot daging. Daging kambing/domba merupakan unsur penting dalam bahan makanan masyarakat Indonesia. Perkembangan usaha peternakan kambing/domba sebagai penghasil daging sangat pesat sebagai antisipasi meningkatnya kebutuhan daging. Oleh karena itu perlu dibina baik dalam kualitas maupun kuantitas produksinya (Anonymous, 2006). Dalam meningkatnya peranan usaha produksi daging di Indonesia dan perlindungan terhadap konsumen dan produsen, maka diperlukan suatu standar nasional mengenai potongan karkas kambing/domba. Penyusunan standar nasional karkas kambing/domba didasarkan atas metode pemeliharaan, teknik penyembelihan, penanganan proses produksi, penyimpanan dan penilaian mutu/kualitas sebelum dipotong serta mengadakan perbandingan dengan standar daging Kambing/domba yang lain. Adapun standar potongan karkas kambing/domba dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan kelas yaitu Kelas I, II dan III, seperti pada tabel 1.

                    Tabel 1. Potongan karkas kambing/domba (Anonymous, 2009a).
No
Golongan /Kelas
Potongan Karkas
1
I
Tender loin
Loin
2
II
Leg
Shoulder
Rack
3
III
Breast
Flank
Shank

Gambar 1. Peta bagian-bagian karkas kambing/domba
Rounded Rectangle: BreastRounded Rectangle: FlankRounded Rectangle: Fore shankRounded Rectangle: ShoulderRounded Rectangle: LegRounded Rectangle: Tender loinRounded Rectangle: LoinRounded Rectangle: Rack

                            Gambar 2. Bagian-karkas kambing/domba

       Karkas kambing/domba dalam standar digolongkan kedalam 3 (tiga) jenis mutu, yaitu mutu I, II dan mutu III (Anonymous, 200a), seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Standardisasi karkas Kambing/domba telah diatur melalui SNI 01-39251995

No

Karakteristik
Syarat Mutu
Mutu I
Mutu II
Mutu III
1
Penampakan
Agak lembab
Agak kering
Kering
2
Tekstur
Lembut dan kompak
Agak keras dan kurang kompak
Keras dan tidak kompak
3
Warna
Merah khas daging
Merah khas daging dan agak heterogen
Merah khas daging dan heterogen
4
Lemak panggul
Tebal
Agak tipis
Tipis
5
Umur
Muda/dewasa
Muda/dewasa
Muda/dewasa
6
Salmonella
Negatif
Negatif
Negatif
7
E.Coli
Negatif
Negatif
Negatif
8
Bau / aroma
Spesifik
Spesifik
Spesifik

     Menurut Soeparno (2011), marbling menjadikan daging empuk, karena marbling berperan sebagai bahan pelumas pada saat daging dikunyah dan ditelan, juga berpengaruh terhadap sari minyak (juiceness) dan aroma (flavor) daripada keempukan daging. Faktor kualitas daging yang dimakan terutama meliputi warna, keempukan dan tekstur, flavor dan aroma termasuk bau atau rasa, jus daging. Disamping itu lemak intramuskular, susut masak, retensi cairan, pH daging ikut menentukan kualitas daging.  Salah satu penilaian mutu daging adalah sifat keempukan yang dapat dinyatakan dengan sifat mudah dikunyah (Soeparno, 2011). Tabel 3 berikut adalah tingkatan mutu dan syarat mutu daging kambing/domba berdasarkan derajat marbling.

Tabel 3. Mutu dading kambing/domba berdasarkan marbling

Derajat marbling
Umur
Lo
L1
L2
L3
Banyak
Mutu I
Mutu I
Mutu I
Mutu II
Sedang
Mutu I
Mutu I
Mutu II
Mutu III
Sedikit
Mutu I
Mutu II
Mutu III
Mutu III
Tanpa marbling
Mutu II
Mutu II
Mutu III
--

PENERAPAN STANDARDISASI MUTU PRODUK TERNAK KAMBING/DOMBA 
       Untuk meningkatkan konsumsi hasil ternak kambing/domba, salah satu programnya adalah diversifikasi produk olahan melalui teknologi pascapanen. Teknologi pascapanen mempunyai peran yang besar dalam peyediaan pangan bergizi tinggi yang berasal dari protein hewani. Berdasarkan  teknologi pascapanen (penanganan dan pengolahan hasil ternak) daging, susu dan kulit, maka teknologi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pengguna, untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ternak, seperti pada tabel 4. Produk/ olahan adaging, susu,kulit kambing/domba sudah mempunyai Standar Nasional Indonesia (SNI), namun belum sepenuhnya diterapkan dalam produksi, pemasaran hasil ternak. Pada tabel 4 berikut, SNI beberapa produk/olahan ternak kambing /domba.

        Tabel 4. Produk olahan, dan penerapan standardisasi mutu produk
KOMODITI
PRODUK / OLAHAN
S N I
Daging (kambing/
domba)
Daging
Karkas
Abon,
Dendeng,
Bakso
Sosis,
Kornet,
Nugget
SNI 01-3948-1995
SNI 01-3925-1995
SNI 01-3707-1995
SNI 01-2908-1992
SNI 01-3818-1995
SNI 01-3820-1995
SNI 01-3775-2006
SNI 01-6638-2002
Susu
Susu kambing bubuk
Pasteurisasi,
Yoghurt
Keju
SNI 01-2970-2006
SNI 01-3951-1995
SNI 2981-2009
SNI 01-2980-1992
Kulit kambing/
domba
Kulit samak

SNI 01-2739-1992

KESIMPULAN
 Produksi hasil ternak kambing/domba pemanfaatannya belum optimal oleh karena masih adanya susut hasil, beragamnya mutu produk, kurang berdaya gunanya cara-cara penanganan dan pengolahan, mempunyai sifat mudah rusak, serta lemahnya sistem pemasaran. Strategi peningkatan produk hasil ternak yang bermutu dan aman (food safety) hendaknya dilakukan melalui pemilihan bibit ternak yang unggul, pemberian pakan dengan mutu baik, tatalaksana pemeliharaan yang baik, pengendalian penyakit, teknologi pascapanen yang tepat guna, serta menerapkan prinsip-prinsip pengamanan sejak ditingkat produsen, perantara dan tingkat pemasaran serta penerapan standardisasi mutu produk.  Penelitian dan pengembangan standardisasi mutu produk hasil ternak kambing/domba melalui teknologi pascapanen diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk, meningkatkan konsumsi / preferensi hasil ternak, sekaligus dapat mendukung PSDSK khususnya dan pembangunan subsektor peternakan pada umumnya. SNI produk/olahan hasil ternak kambing/domba sudah ada, namun belum sepenunya diterapkan baik di tingkat produsen, perantara maupun pada tingkat pemasaran.

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, D Mustika dan Sugiarto. 2004. Zat besi dari sumsum tulang sapi sebagai suplemen untuk pencegahan anemia gizi. Proseding Seminar Nasional, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Abubakar. 2004. Strategi peningkatan kualitas produk melalui teknologi pascapanen dalam pengembangan agribisnis kambing. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Puslitbang Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Bogor 6 Agustus
Abubakar dan Usmiati. 2011a. Diversifikasi produk olahan ternak ruminansia kecil melalui teknologi pascapanen mendukung PSDSK 2014. Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Jakarta 7 November.
Abubakar dan Usmiati. 2011b. Teknologi Pengolahan Daging. ISBN 978-979-116-10-7. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian.
Anonymous. 2005. Prospek dan Arah pengembangan Agribisnis Kambing-Domba. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.
Anonymous. 2006. Pedoman Umum Penanganan Pascapanen Produk Peternakan. Subdit Pasca panen Peternakan. Direktorat Penanganan Pascapanen Ditjen P2HP Departemen Pertanian.
Anonymous. 2009a. Pedoman Umum Penanganan Pascapanen Produk Ternak Ruminansia. Subdit Pascapanen Peternakan. Direktorat Penanganan Pascapanen Ditjen P2HP Departemen Pertanian.
Anonymous. 2009b. Renstra Kementerian Pertanian 2010-2014. Kementerian Pertanian, Jakarta  
Anonymous, 2012. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan,Deptan, Jakarta.
Cadavez, VAP. 2009. Prediction of lean meat proportion of lamb carcasses. Archiva Zootechnica. 12:4, 46-58. Mountain Research Centre (CIMO), ESA. Instituto Politécnico de Bragança, Campus de Santa Apolónia, Apartado 1172, 5301-855 Bragança
Legowo, A. M. 2007. Peranan Teknologi Pangan dalam Pengembangan Produk Olahan Hasil Ternak Di Tengah Kompetensi Global. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Teknologi Pasca Panen. Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro.
Miskiyah dan Usmiati. 2007. Komposisi dan kualitas daging dari karkas kambing dan domba muda lokal. Widyariset, Bogor-Indonesia.
Polewa, W. 2011. Amankah anda mengkonsumsi daging kambing. http://jurnalkesehatanterbaru9. blogspot.com/2011/11/amankah-anda-mengkonsumsi-daging-kambing.html [diakses 26 April 2013]
Sumarmono, J. 2003.  Jangan Takut Makan Daging Kambing. Infovet. Edisi 112 Nopember
Sunarlim R, dan Usmiati . 2006. Profil Karkas Ternak Domba dan Kambing. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor.
Tiven, N. C., Suryanto, E., dan Rusman. 2007. Komposisi kimia, sifat fisik dan organoleptik bakso daging kambing dengan bahan pengental yang berbeda. Agritech. 27 (1): 1-6.
Usmiati S dan H. Setyanto. 2008. Penampilan karkas dan komponen karkas ternak ruminansia kecil. Proseding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor.
Usmiati S dan Abubakar, 2009. Teknologi Pengolahan Susu ISBN 978-979-1116-18-3. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian.