Selasa, Maret 31, 2009

MAKALAH SEMINAR

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KOPERASI SUSU
MELALUI PEMANFAATAN SUSU KUALITAS RENDAH
DENGAN PROGRAM LINEAR METODE SIMPLEKS

Abubakar 1) dan Sari Safitri 2)

1) Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
2) Jurusan Informatika, Fak Teknik UIKA, Bogor

ABSTRAK

Susu sapi merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi, dengan penyusun utamanya adalah protein, lemak, laktosa, mineral, vitamin, dan beberapa mikroba. Susu mudah rusak karena masa simpannya relatif singkat, sehingga bermutu rendah pada saat akan diolah. Koperasi susu menampung susu yang disetorkan peternak dan melakukan uji mutu terhadap susu. Dukungan keputusan bagi koperasi dilakukan dengan aplikasi Decission Support System. Aplikasi tersebut memberikan kegunaan untuk strategi peningkatan produktivitas koperasi, juga memberikan alternatif produk olahan dari susu kualitas rendah. Dengan menggunakan program linier metode simpleks, dapat dihitung rendemen produk olahan yang dapat diproduksi serta optimalisasi keuntungan yang akan diperoleh.

Kata kunci : Produktivitas KPS, susu kualitas rendah, simpleks

MAKALAH SEMINAR

KONDISI RUMAH POTONG AYAM (RPA) DAN
KEAMANAN PANGAN KARKAS AYAM DI DKI JAKARTA
KAITANNYA DENGAN PENERAPAN PERDA NO.4/2007

ABUBAKAR
Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor 16113
Email:
abu.028@gmail.com

ABSTRAK
Dalam rangka pengendalian flu burung diwilayah DKI Jakarta yang dapat ditularkan pada manusia dan penyediaan karkas ayam yang asuh, diperlukan perubahan system dan proses pengadaan karkas ayam sehingga diperlukan penataan RPA. Saat ini RPA di Jakarta sebanyak 1153 lokasi dengan jumlah kebutuhan karkas ayam 600.000 ekor/hari. Terbitnya Perda DKI no.4/2007 bertujuan untuk mengatur relokasi RPA yang berada di DKI menjadi 6 lokasi dan menata distribusi unggas ke Jakarta yang akan diberlakukan secara bertahap selama tiga tahun kedepan. Terbitnya aturan tersebut tentu berpengaruh terhadap pelaku usaha perungggasan, baik di DKI maupun didaerah lain, karena sampai saat ini DKI masih dianggap barometer dalam pemasaran unggas nasional. Untuk melihat persiapan relokasi, telah dilakukan survai di beberapa RPA tradisional di DKI Jakarta, terhadap kinerja sistem keamanan, karakteristik aktivitas pemotongan, penanganan karkas ayam, penampilan karkas, jumlah dan jenis bakteri, transportasi, legalitas, labelisasi, identifikasi hazard, identifikasi sumber kontaminasi, dan pemeriksaan mikrobiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem keamanan pangan pada daging / karkas ayam yang dihasilkan RPA tradisional masih belum efektif dan aman terhadap kontaminasi mikroorganisme patogen bagi konsumen, kontaminasi bakteri sudah melebihi jumlah ambang batas maksimal, bakteri Coliform merupakan mikroorganisme utama sebagai kontaminan, pencemaran utama berasal dari ternak, air, udara dan tanah. Penerapan HACCP, sistem kesehatan hewan nasional dan undang-undang pangan belum dapat dilakukan secara baik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa relokasi RPA harus segera dilakukan, agar TPA memenuhi standar kesmavet sehingga memenuhi aspek hygiene dan sanitasi, lingkungan, social, kecukupan daging serta aspek kelangsungan tataniaga.



Kata kunci : keamanan, karkas ayam, perda 4/2007

MAKALAH SEMINAR

MUTU YOGHURT SUSU SAPI
PADA BERBAGAI PERSENTASE PENAMBAHAN STARTER

ABUBAKAR 1) dan E. PURWANTI 2)

1) Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
2) Dinas Peternakan DKI Jakarta
Email:
abu.028@gmail.com


ABSTRAK

Yoghurt merupakan salah satu hasil teknologi pengolahan susu yang mempunyai nilai gizi tinggi dan sangat baik dikonsumsi bagi penderita lactose intolerance. Pembuatan yoghurt sangat bervariasi namun tujuannya adalah menghilangkan bakteri patogen dan mengurangi kadar air serta proses pengolahannya harus hiegenis agar diperoleh produk berkualitas baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu yoghurt pada berbagai pemberian persentase starter berbeda. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan lima perlakuan yaitu; A1= Starter Streptococcuc thermophilus (ST) dan Lactobacillus bulgaricus (LB)= (1:1), A2= (ST : LB)=(1/2:1), A3= (ST : LB)=(1:1/2), A4=(ST : LB)=(1:0) dan A5=(ST : LB)= (0:1) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi, kadar asam laktat, pH dan uji organoleptik (rasa, aroma, warna dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan starter Streptococcuc thermophilus (ST) dan Lactobacillus bulgaricus (LB)=(1:1) menghasilkan yoghurt dengan keasaman dan pH yang baik serta rasa, aroma, warna dan tekstur yang disukai panelis sedangkan perbandingan (ST : LB)= (1:1/2) menghasilkan yoghurt dengan kadar asam laktat lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain, sehingga disarankan pada pembuatan yoghurt susu sapi dengan perbandingan (ST: LB) = (1:1) sebanyak 3%, karena diperoleh keasaman dan pH terbaik serta mutu organoleptik yang disukai panelis.
Kata kunci: Persentase starter, mutu yoghurt, susu sapi
QUALITY OF YOGHURT COW MILK VARIOUS PERCENTAGE OF
ADDITION OF STARTER

ABSTRACT


Yoghurt is one of technological result processing of milk having value of nutritious.very good and high consumed for patient of intolerance lactose. Making of yoghurt highly varied but the target of him to eliminate bacterium of patogen and lessen rate irrigate and also process the processing of having to hiegenis so that obtained good product with quality. this Research target to know quality of yoghurt at various gift of percentage of starter differ. Device the used is Complete Random Device of single factor by 5 treatment that is: A1= Starter of Streptococcuc thermophilus ( ST) and of Lactobacillus bulgaricus (LB)= ( 1:1), A2= (ST : LB)=(1/2:1), A3= ( ST:LB)=(1:1 / 2), A4=(ST : LB)=(1:0) and A5=(ST : LB)= (0:1) by 3 replication. Parameter perceived to cover, acid contents of lactat, test and pH of organoleptic ( feel, flavour, and colour of tecstur). Result of research indicate that comparison of starter of Streptococcuc thermophilus ( ST) and of Lactobacillus bulgaricus ( LB)=(1:1) yield yoghurt with and acidity of pH the goodness and also feel, flavour, and colour of tecstur took a fancy to panelist while comparison (ST:LB)= (1:1 / 2) yielding yoghurt with acid contents of lactat compared to higher of other treatment, is so that suggested at making of cow milk yoghurt with comparison (ST:LB) = (1:1) counted 3%, because obtained by and acidity of pH best and also quality of organoleptic took a fancy to panelist.

Keyword: Percentage of starter, quality of yoghurt, cow milk.

SEMINAR BPTP SUMUT - MEDAN

TEKNOLOGI PEMOTONGAN DAN PENANGANAN DAGING UNGGAS SERTA SOSIALISASI PENERAPAN HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
DI RPA (Rumah Potong Ayam
) TRADISIONAL

ABUBAKAR
Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
E-mail:
abubakar_litbangpascapanen@yahoo.co.id

ABSTRAK


Sistem keamanan pangan pada hasil ternak merupakan suatu rangkaian pembangunan yang terpadu dan terintegrasi dengan kebijakan global, regional maupun nasional. Tuntutan yang semakin meningkat akan sistem keamanan pangan akan hasil ternak yang baik bagi konsumen mendorong untuk dikembangkannya suatu sistem kebijakan yang relevan dan dapat diterapkan oleh para pelaku pasar. Karkas unggas (ayam) yang dihasilkan oleh Rumah Potong Ayam (RPA) tradisional dan selama proses pemotongan, penanganan, lingkungan yang tidak kondusif sangat memungkinkan pertumbuhan dan kontaminasi oleh bakteri patogen, merupakan produk yang berpeluang sebagai perantara dalam menyebarkan penyakit. Pada tahun 2010 pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada daging, untuk itu telah diambil langkah-langkah positif diantaranya pengadaan bibit unggul, tesedianya pakan yang bermutu, dan manajemen yang handal. Peningkatan produksi karkas unggas (ayam) dalam rangka swasembada daging harus diikuti dengan peningkatan mutu dan keamanan pangan serta menjamin kehalalannya. Karkas ayam mempunyai potensi dan peran yang sangat strategis dalam pencanangan swasembada daging, karena selain daging ayam sangat disukai semua kalangan masyarakat, bergizi tinggi, mudah dicerna, mudah cara pengolahannya dan harganya terjangkau, namun demikian daging ayam mudah rusak karena penanganannya selama pemotongan sampai dipasar kurang baik. Pemotongan ternak ayam sampai saat ini sebagian besar dilakukan secara tradisional di RPA (rumah potong ayam) dengan teknik dan peralatan yang sederhana dan hieginitasnya kurang terjamin. Untuk meningkatkan mutu dan keamanan karkas ayam selama pemotongan sampai dipasar perlu dilakukan penerapan HACCP, penetapan dan penerapan CCP (Critical Control Point) pada: pemotongan ayam, penirisan darah, pencabutan bulu, pengeluaran jeroan, pencucian, pengemasan, penyimpanan dingin dan transportasi.

Kata kunci : Pemotongan unggas, sosialisasi HACCP, teknologi

ABSTRACT

Technology of slaughter, handling poultry meat and also applying HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) socializing in traditional RPA (Chicken Slaughterhouse). Food security system of at livestock result represent an integrated and inwrought development network with the global policy, regional and also national. Demand which progressively mount the food security system of will result of livestock which is both for consumer push to developing of an applicable and relevant policy system by all market perpetrator. Poultry carcass of yielded by slaughterhouse chicken (traditional RPA) and during slaughtering process, handling, environment which do not condusif very conducive growth and contamination by bacterium patogen, represen ting product which have opportunity to as medium in propagating disease. In the year 2010 government of cymbal Indonesia have the self sufficiency meat, for that have been taken by a positive stages: steps among other things a bit of blood levying, certifiable feed, and reliable management. The increase of chicken carcass product in order to self sufficiency meat have to be followed with the make-up of quality and food security and also guarantee is lawful. Chicken have the very strategic role and potency in cymbal is self sufficiency meat, because besides chicken meat very taken a fancy by all society circle, high nutritious, is easy to digested, easy to the way of its processing and its price reached, but that way easy chicken meat destroy because its handling during slaughter until unfavourable market. Slauhtering of chicken to date most conducted traditionally in RPA (slaughterhouse chicken) with the simple equipments and technique and hiegiene less be well guaranted. To increase quality of and carcass security of chicken during slaughter until market require to be conducted by applying HACCP, stipulating and applying of CCP (Critical Control Point) at chicken slaughter, blood slice, furrepeal, bowels expenditure, washing, packaging, chilled depository and transportation

Keywords : Poultry slaughter, HACCP socialization, technology

SEMINAR BSN

STANDARDISASI RUMAH POTONG AYAM (RPA) “TRADISIONAL”
DAN PENERAPAN HACCP DALAM PROSES PEMOTONGAN AYAM
DI INDONESIA

ABUBAKAR

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
Email:
abu.028@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia tahun 2010 mencanangkan swasembada daging, dimana saat ini konsumsi daging nasional didominasi oleh karkas/daging ayam. Untuk itu saat ini telah diambil langkah-langkah positif diantaranya pengadaan bibit ternak unggul, tersedianya pakan yang bermutu, dan manajemen yang handal serta perlu diadakan revitalisasi dan penataan RPA yang standar. Peningkatan produksi karkas ayam dalam rangka swasembada daging harus diikuti dengan peningkatan mutu dan keamanan pangan serta menjamin kehalalannya. Standardisasi RPA sangat penting dalam menghasilkan karkas ayam yang aman dan bermutu. Untuk menjamin mutu, dan kehalalan karkas ayam tidak cukup dengan penerapan sistem jaminan halal yang ada di RPA. Jaminan kehalalan produk yang dihasillan RPA diwujudkan dalam bentuk sertifikat halal yang menyertai suatu produk daging ayam tersebut dengan pencantuman logo ”halal” pada kemasannya setelah memperoleh izin dari LPPOM-MUI.. Untuk itu telah disurvai beberapa RPA di Jabotabek untuk mengtahui kondisi standar RPA dan penerapan prinsip-prinsip HACCP dalam proses pemotongan ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, RPA atau TPA belum sesuai standar SNI, pemotongan ayam dilakukan secara tradisional dengan teknik dan peralatan yang sederhana dan hieginitasnya kurang terjamin dan belum menerapkan prinsip-prinsip HACCP. Untuk meningkatkan mutu dan keamanan karkas ayam selama pemotongan sampai dipasar, maka RPA / TPA harus sesuai dengan SNI 01-6160-1999 dan pelaku RPA perlu memahami teknologi pemotongan dan penanganan daging ayam yang halal serta dapat menerapkan prinsip-prinsip HACCP dalam proses pemotongannya.



Kata kunci : Pemotongan ayam , RPA tradisional, standardisasi

STANDARDIZATION SLAUGHTERING HOUSE CHICKEN (RPA)
" TRADITIONAL" AND APPLYING OF HACCP IN COURSE OF AMPUTATION OF CHICKEN IN INDONESIA

ABSTRACT

Indonesia 2010 isn't it the self sufficiency flesh, where in this time consume national flesh predominated by crabbed / chicken flesh. For that in this time have been taken by positive stages;steps among others levying of pre-eminent livestock seed, the available of nutrition the certifiableness, and reliable management and also require to be performed a revitalisasi and settlement of RPA which was standard. Crabbed product increase of chicken for the agenda of self sufficiency flesh have to follow with improvement of food security and quality and also guarantee his him. Standardization of RPA of vital importance in yielding crabbed of certifiable and peaceful chicken. To guarantee quality, and crabbed lawful of insufficient chicken with applying of lawful guarantee system which in RPA. Lawful Guarantee of product which is RPA is resulted realized in the form of lawful certificate which accompany an the chicken flesh product with coalescence of logo " lawful" at the tidiness of after obtaining permit of LPPOM-MUI.. For that have survey some RPA in Jabotabek to know the condition of standards of RPA and principals applying of HACCP in course of amputation of chicken. Result of research indicate that, RPA or TPA not yet according to standard of SNI, amputation of chicken done/conducted traditionally with simple equipments and technique and the him of less well guaranted and not yet applied principle of HACCP. To upgrade and crabbed security of chicken during amputation until market, hence RPA / TPA have to as according to SNI 01-6160-1999 and perpetrator of RPA require to comprehend amputation technology and handling of lawful chicken flesh and also can apply principle of HACCP in course of amputation of him.


Keyword : Chicken Slaughter , Traditional RPA, standardization.

Senin, Maret 23, 2009

MAKALAH SEMINAR

STRATEGI, KEBIJAKAN DAN PROGRAM Teknologi Pascapanen dan Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Dalam Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan Susu Sapi Segar

ABUBAKAR
Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
Email:
abu.028@gmail.com

ABSTRAK
Pembangunan subsektor peternakan sampai saat ini tetap mempunyai peranan yang penting bagi kelangsungan pembangunan secara keseluruhan, baik untuk meningkatkan gizi masyarakat maupun untuk memperluas lapangan kerja disektor pertanian. Peningkatan produksi ternak yang sudah baik harus diikuti dengan penerapan teknologi pascapanen hasil yang tepat guna, hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditi hasil ternak, maupun dalam rangka meningkatkan pertumbuhan agroindustri terutama di daerah pedesaan. Sampai saat ini produksi hasil ternak terutama susu dirasakan pemanfaatannya belum optimal oleh karena sifatnya mudah rusak, beragamnya mutu produk, keamanannya belum terjamin, belum diterapkannya HACCP, kurang berdaya gunanya cara-cara penanganan dan pengolahan, serta lemahnya sistem pemasaran. Untuk itu diperlukan strategi, kebijakan dan program teknologi pascapanen dan penerapan HACCP dalam peningkatan mutu dan keamanan pangan susu sejak ditingkat produsen, perantara/pengumpul, koperasi, IPS selanjutnya sampai konsumen secara terarah dan berke sinambungan.

Kata kunci: Mutu Susu sapi, HACCP, Strategi dan Program
STRATEGY, POLICY AND TECHNOLOGICAL PROGRAM OF POSTHARVEST AND APPLYING OF HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT (HACCP) IN IMPROVE MENT OF QUALITY AND FRESH SECURITY FOOD MILK
Abstract. The development of husbandry subsector until now still have remain to an important role which necessary for the continuity of development as a whole, good to improving society nutrition and to extend agricultural sector employment. Product increase of livestock which have good achievement have to be follow with the adjusment of technology of correct result postharvest for, this matter require has to be conducted to improve commodity added value result of livestock, and for the agenda of improving growth of agroindustries especially in rural area. Untill now the produce result of livestock especially milk has not becaming yet optimal because of its character that easy to damage, immeasurable of it product quality, security of not yet well guaranted, not yet been applied of HACCP, less utilizable of way oves processing and handling, and also weaken marketing system. Its necessary a strategy, technological program and policy of postharvest and applying of HACCP in improvement of milk food security and quality since level mounted by producer, compiler, co-operation, IPS herein after until consumer directionally.

Keyword: Quality of Milk, HACCP, Program and strategy.

MAKALAH SEMINAR

STANDARDISASI RUMAH POTONG AYAM (RPA) “TRADISIONAL”
DAN PENERAPAN HACCP DALAM PROSES PEMOTONGAN AYAM
DI INDONESIA

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Bogor
Email: abu.028@gmail.com

ABSTRAK
Indonesia tahun 2010 mencanangkan swasembada daging, dimana saat ini konsumsi daging nasional didominasi oleh karkas/daging ayam. Untuk itu saat ini telah diambil langkah-langkah positif diantaranya pengadaan bibit ternak unggul, tersedianya pakan yang bermutu, dan manajemen yang handal serta perlu diadakan revitalisasi dan penataan RPA yang standar. Peningkatan produksi karkas ayam dalam rangka swasembada daging harus diikuti dengan peningkatan mutu dan keamanan pangan serta menjamin kehalalannya. Standardisasi RPA sangat penting dalam menghasilkan karkas ayam yang aman dan bermutu. Untuk menjamin mutu, dan kehalalan karkas ayam tidak cukup dengan penerapan sistem jaminan halal yang ada di RPA. Jaminan kehalalan produk yang dihasillan RPA diwujudkan dalam bentuk sertifikat halal yang menyertai suatu produk daging ayam tersebut dengan pencantuman logo ”halal” pada kemasannya setelah memperoleh izin dari LPPOM-MUI.. Untuk itu telah disurvai beberapa RPA di Jabotabek untuk mengtahui kondisi standar RPA dan penerapan prinsip-prinsip HACCP dalam proses pemotongan ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, RPA atau TPA belum sesuai standar SNI, pemotongan ayam dilakukan secara tradisional dengan teknik dan peralatan yang sederhana dan hieginitasnya kurang terjamin dan belum menerapkan prinsip-prinsip HACCP. Untuk meningkatkan mutu dan keamanan karkas ayam selama pemotongan sampai dipasar, maka RPA / TPA harus sesuai dengan SNI 01-6160-1999 dan pelaku RPA perlu memahami teknologi pemotongan dan penanganan daging ayam yang halal serta dapat menerapkan prinsip-prinsip HACCP dalam proses pemotongannya.





Kata kunci : Pemotongan ayam , RPA tradisional, standardisasi


STANDARDIZATION SLAUGHTERING HOUSE CHICKEN (RPA)
" TRADITIONAL" AND IMPLEMENTATION OF HACCP IN SLAUGHTERING PROCESS OF CHICKEN IN INDONESIA

Indonesia has launched self sufficiency programe for meat in 2010 as mostly national meat consumption has been dominated by chicken meat/ chicken carcass. Some positive actions have been taken namely supplying pre-eminent livestock seeds, good quality feeds, practicing appropriate management, and revitalization standardized RPA. Production improvement of chicken carcass in line with meat self-sufficiency has to be followed by quality improvement and food safety as well as to guarantee its halal status. Standardization of RPA is prerequisite for production of safe and good quality of chicken carcass. Quality and halal assurance of chicken carcass is not only by applying halal assurance system in RPA, but also by producing halal certificate for meats and applying logo sticker halal at its packaging appointed by LPPOM-MUI. Regarding this matter, a survey to same RPA in Jabotabek area has been carried out, to find out the standard condition of RPA and implementation of HACCP at slaughtering of chicken. In order to improve quality and food safety of chicken carcass during slaughtering until ready to the market, the RPA has to implement SNI 01-6160-1999. Further more the manager of RPA has to understand the halal procedure of slaughtering and post-mortem handling of chicken, as well as implementing HACCP principles at slaughtering practices.









Keyword : Chicken slaughtering , traditional RPA, standardization.

ABSTRAK KARYA TULIS

MUTU YOGHURT SUSU SAPI
PADA BERBAGAI PERSENTASE PENAMBAHAN STARTER

ABSTRAK
Yoghurt merupakan salah satu hasil teknologi pengolahan susu yang mempunyai nilai gizi tinggi dan sangat baik dikonsumsi bagi penderita lactose intolerance. Pembuatan yoghurt sangat bervariasi namun tujuannya adalah menghilangkan bakteri patogen dan mengurangi kadar air serta proses pengolahannya harus hiegenis agar diperoleh produk berkualitas baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu yoghurt pada berbagai pemberian persentase starter berbeda. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan lima perlakuan yaitu; A1= Starter Streptococcuc thermophilus (ST) dan Lactobacillus bulgaricus (LB)= (1:1), A2= (ST : LB)=(1/2:1), A3= (ST : LB)=(1:1/2), A4=(ST : LB)=(1:0) dan A5=(ST : LB)= (0:1) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi, kadar asam laktat, pH dan uji organoleptik (rasa, aroma, warna dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan starter Streptococcuc thermophilus (ST) dan Lactobacillus bulgaricus (LB)=(1:1) menghasilkan yoghurt dengan keasaman dan pH yang baik serta rasa, aroma, warna dan tekstur yang disukai panelis sedangkan perbandingan (ST : LB)= (1:1/2) menghasilkan yoghurt dengan kadar asam laktat lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain, sehingga disarankan pada pembuatan yoghurt susu sapi dengan perbandingan (ST: LB) = (1:1) sebanyak 3%, karena diperoleh keasaman dan pH terbaik serta mutu organoleptik yang disukai panelis.

Kata kunci: Persentase starter, mutu yoghurt, susu sapi

QUALITY OF YOGHURT COW MILK
VARIOUS PERCENTAGE OF ADDITION OF STARTER

Yoghurt is one of technological result processing of milk having value of nutritious.very good and high consumed for patient of intolerance lactose. Making of yoghurt highly varied but the target of him to eliminate bacterium of patogen and lessen rate irrigate and also process the processing of having to hiegenis so that obtained good product with quality. this Research target to know quality of yoghurt at various gift of percentage of starter differ. Device the used is Complete Random Device of single factor by 5 treatment that is: A1= Starter of Streptococcuc thermophilus ( ST) and of Lactobacillus bulgaricus (LB)= ( 1:1), A2= (ST : LB)=(1/2:1), A3= ( ST:LB)=(1:1 / 2), A4=(ST : LB)=(1:0) and A5=(ST : LB)= (0:1) by 3 replication. Parameter perceived to cover, acid contents of lactat, test and pH of organoleptic ( feel, flavour, and colour of tecstur). Result of research indicate that comparison of starter of Streptococcuc thermophilus ( ST) and of Lactobacillus bulgaricus ( LB)=(1:1) yield yoghurt with and acidity of pH the goodness and also feel, flavour, and colour of tecstur took a fancy to panelist while comparison (ST:LB)= (1:1 / 2) yielding yoghurt with acid contents of lactat compared to higher of other treatment, is so that suggested at making of cow milk yoghurt with comparison (ST:LB) = (1:1) counted 3%, because obtained by and acidity of pH best and also quality of organoleptic took a fancy to panelist.


Keyword: Percentage of starter, quality of yoghurt, cow milk.